Opinion · Technology

Distributed Company

Hi!

4 hari terakhir Saya banyak membaca mengenai konsep dsitributed company, konsep yang telah berjalan cukup lama sebetulnya. Kenapa Saya memutuskan memperdalam ini dikarenakan adanya kebutuhan sekaligus pemahaman baru bahwa pekerjaan dapat dikerjakan dimanapun dan produktivitas dinilai secara adil melalui result yang ada.

Berbicara mengenai distributed company, intinya merupakan konsep desentralisasi pekerjaan ke karyawanya namun dalam koridor yang lebih luas yaitu tempat karyawan tersebut bekerja. Pekerjaan dilakukan secara bergotong royong oleh sekelompok orang yang terpisah jarak dan waktu. Kuncinya dengan adanya teknologi penunjang berupa internet maka dimanapun karyawan tersebut dapat bekerja, tetap produktif dengan deliverables pekerjaan yang tetap terukur.

Kontribusi Open Source Project

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya Open Source Project dengan Distributed Company? Sebetulnya memang tidak ada hubungan langsung, namun Saya melihat bagaimana Open Source Project yang awalnya dibangun melalui komunitas forum online berkembang semakin baik dalam memenuhi aspek komersial. Bagi yang familiar dengan Linux dapat merujuk ke sejarahnya bagaimana Linus Torvalds (inisiator) mengembangkan turunan Kernel Unix Operating System menjadi Kernel Linux di tahun 1991. Saya tidak akan melanjutkan pembahasan ini karena sangat teknis dan bukan bidang Saya.

Selanjutnya, tulisan ini sedikit banyak akan lebih membahas perusahaan yang memang dari awal berdirinya menggunakan konsep distributed company yaitu Automattic. Bagi yang tidak familiar, perusahaan ini merupakan induk dari WordPress, SimpleNote, WooCommerce, AKISMET, JetPack dst. Saya benar-benar terinspirasi bagaimana kredo perusahaan ini dalam berkerja secara distributed mengingat >700 karyawannya berlokasi di segala penjuru dunia. Salah satu buku keluaran tahun 2013 yang ditulis oleh Scott Berkun berjudul “The Year Without Pants: WordPress.com and the future of work” menjadikan Automattic sebagai subyeknya.

Bukan bermaksud glorifikasi, selain Automattic Saya juga mencoba untuk mengutip perusahaan lain yang memiliki konsep serupa dengan Automattic. Salah satu yang menarik bagi Saya adalah SuSe dan MySQL. Keduanya juga merupakan software open source yang juga dibangun oleh komunitas. Contoh lain yang mengejutkan adalah Citibank, namun Saya belum mendapatkan highlight yang menyeluruh mengingat mereka baru mengklaim sebagai bank yang embrace work life balance dengan menyediakan flexible working hours untuk karyawannya.

Kembali lagi ke WordPress, Tony Schneider salah satu founder Automattic menulis dalam blognya “5 reason why your company should be distributed“, bahwa menjadi distributed dengan sendirinya kita “memberikan” wewenang  pekerjaan untuk diselesaikan secara otonomi baik oleh individu maupun oleh grup yang lebih besar. Hal ini dapat terjadi jika secara organisasi perusahaan mengadopsi hirarki yang lebih sederhana ataupun flat organization. Organisasi yang terlalu kompleks, silo dan karyawan tanpa mindset self-starter dengan sendirinya akan kesulitan dengan konsep ini. Yang menjadi tolak ukur adalah bagaimana result pekerjaan tersebut dan bukan bagaimana pengerjaannya, dimana pengerjaannya, dengan apa dan kapan waktu pengerjaan dilakukan.

Distributed company dan akusisi talenta berkualitas

Walaupun yang dimaksud distributed company adalah distribusi pekerjaan dan wewenang, namun kenyataannya istilah ini sangat dekat dengan working from home / working anywhere / remote office / flexible working hours / digital nomads.  Kembali mengutip artikel Tony di paragraf sebelumnya, ada kejadian unik ketika setiap kali akan melakukan meeting dengan mitra, ia selalu saja menawarkan meeting di lokasi mitra atau di coffee shop karena memang Automattic tidak memiliki kantor. Automattic sempat memiliki kantor yang berlokasi di San Fransisco namun pada akhirnya ditutup di tahun 2017 karena sebagian besar Automattician (sebutan untuk karyawan Automattic) tidak menuju ke tempat itu untuk bekerja. Saat ini dapat dikatakan 100% Automattician bekerja secara remote dan terdistribusi di 62 negara dengan perbedaan waktu yang begitu mencolok.

Salah satu keunggulan menjadi distributed company adalah memperbesar peluang mendapatkan talenta terbaik dari seluruh dunia. Sudah bukan zamannya lagi sebuah pekerjaan hanya menjadi privilege bagi almamater, kota atau warga negara tertentu saja. Kali ini Saya teringat Globalization 3.0 dari buku “The World is Flat” tulisan Thomas L. Friedman yang banyak membahas bagaimana teknologi dan akses informasi memudahkan untuk berkolaborasi dan berkompetisi secara real-time tanpa batas-batas negara.

Perkembangan teknologi penunjang distributed company

Communication is an Oxygen” itulah salah satu kredo dari Automattic, yang menarik kemudian adalah statement bahwa email adalah blackbox dimana tidak semua orang dapat mengaksesnya. Padahal kita semua mengetahui bagaimana email merupakan essential tools untuk komunikasi secara formal di lingkup profesional. Secara fungsi, email memang membatasi tersebarnya informasi karena hanya ditujukkan untuk individu. Kondisi missing out seperti ini akan lebih parah jika seluruh pekerjaan dilakukan tanpa tatap muka secara langsung. Solusinya ternyata telah tersedia yaitu chat dan blog, ya betul itulah media solusinya karena mudah menggunakan fitur “search” untuk trackback semua materi pekerjaan.

Bentuk tools chat dan blog bisa beragam tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan dan tidak harus mahal. Hal ini membuktikan jika transformasi kearah distributed company tidaklah rumit dan sulit, terlebih jika unit atau tim atau perusahaan yang akan memulainya memiliki sedikit anggota/karyawan. Tentu saja tantangan memulai pekerjaan terdistribusi di tim dengan 5 orang berbeda dengan 100 orang.

Salah satu startup unicorn di Indonesia sepengetahuan Saya menggunakan Slack untuk komunikasi dan koordinasi. Saya belum pernah menggunakan Slack untuk pekerjaan sehari-hari namun Saya dapati bahwa Slack digadang-gadang akan menjadi tool yang mampu menggantikan fungsi email sepenuhnya untuk kebutuhan komunikasi.

Khusus untuk Automattic ternyata selain menggunakan Slack, mereka juga menggunakan P2 Theme, semacam online board buatan mereka sendiri yang difungsikan untuk media komunikasi internal. Setiap Automattician termasuk yang baru bergabungpun dengan sendirinya lebih mudah untuk catch up pekerjaan, adaptasi dan koordinasi internal.

Tools berikutnya, Saya tidak perlu sebut satu per satu mengingat kita sudah cukup familiar dengannya. Misal mengunakan Skype atau Zoom untuk video call. File sharing Dropbox atau Google Drive atau bahkan Google Sheet dan Google Docs.

Distributed company untuk semua?

Timbul pertanyaan berikutnya, apakah konsep ini sesuai untuk Anda?Atau setidaknya untuk tim Anda? Jawabannya kembali ke masing-masing karena apa yang Saya ceritakan diatas sebetulnya hanya men-trigger bahwa ini sangat dimungkinkan. Namun tentu saja, buruh pabrik, driver online, pekerja tambang tidak bisa melakukan pekerjaan secara remote. 

Sebelum memikirkan tools untuk keperluan menjadi distributed company, hal yang krusial adalah memahami pekerjaan yang ada. Analysis lebih dalam dapat dilakukan untuk memahami day-to-day pekerjaan tersebut, karena pada dasarnya baik itu tipe pekerjaan clerking hingga intelligent works dapat dijalankan secara remote terdistribusi. Sebagai contoh customer services, programmer, web developer, content updater/maker, designer, marketers, business development adalah contoh-contoh yang dapat dilakukan secara terdistribusi tanpa perlu intensif tatap muka. Sengaja Saya tidak menyebutkan sales karena memang sehari-hari mereka lebih sering berada diluar kantor dan tidak menetap.

Jadi kesimpulannya, being distributed bukan hanya bicara bekerja dimana saja, jam berapa saja tetapi bagaimana standar produktifitas tinggi diciptakan dan digerakkan oleh motivasi individu ditunjang oleh keberadaan mekanisme perusahaan itu sendiri. Sekali lagi bukan bicara mengenai tools yang digunakan.

Pada kondisi kasuistis, individu yang introvert mungkin sangat cocok bekerja seperti ini, begitu juga bagi ibu yang sedang menyusui bayi sebagaimana coba di embrace oleh Citibank. Karyawan yang lelah menghadapi kemacetan perjalanan dari rumah ke kantor tentu saja akan sangat terbantu dengan adanya konsep bekerja distributed. Bukan hal yang salah jika konsep ini menjadi poin lebih bagi suatu perusahaan dimata karyawan maupun calon karyawannya.

if you only pay for peanuts, you’ll only get Monkey

Perks 

Pada akhirnya, manusia tetaplah manusia dengan segala dinamikanya. Selalu saja ada alasan kenapa Saya harus bertindak A, atau bertindak B dst mengacu pada Maslow Theory of Needs. Saya membicarakan perks sebagai bahan pertimbangan sekaligus sebagai inspirasi untuk mereka-mereka yang ingin mengimplementasikan konsep distributed company.

Memang belum tentu setiap individu tertarik, namun boleh dicoba sebagai “pemanis” diluar aspek hygiene benefit offering. Kita mencoba memahami melalui koridor yang sama terlebih yaitu bukan lagi jargon “customer first“,  sekarang pendekatannya adalah “employee first“. Happy employee tentu saja akan berimbas kepada layanan yang prima kepadan customer-nya bukan?  Also remember, if you only pay for peanuts, you’ll only get Monkey.

20190515 - Distributed Company Perks
Perk lists

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s