Opinion · Personal Notes

Pancasila by default

Assalammualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Hi!

“Saya Pancasila”, pernyataan ini banyak bertebaran di media masa dan media sosial di tanggal 1 Juni 2017 lalu. Jujur, Saya baru tahu kalau tanggal 1 Juni 1945 ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila oleh Presiden Joko Widodo berdasarkan Peraturan Presiden No. 24 tahun 2016. Bapak Presiden mengeluarkan keterangan sebagai berikut.

Maka, dengan mengucap syukur kepada Allah dan bismillah, dengan keputusan presiden, tanggal 1 Juni ditetapkan untuk diliburkan dan diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila” – Kompas 01/06/17 – Jokowi, Megawati dan Perayaan Pancasila.

Tanggal ini ditetapkan berdasarkan kejadian yang terjadi pada tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945 yaitu sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Sidang tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh besar seperti Muhammad Yamin, Soepomo dan Soekarno yang ketiganya memaparkan tentang dasar negara. Rentetan peristiwa berikutnya adalah Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 dan kemudian finalisasi Pancasila pada tanggal 18 Agustus 1945 yang isinya kita kenal sekarang.

Saya Pancasila…. Saya adalah pendukung Pancasila

Saya skip kisah kelanjutannya dari paragraf diatas karena Saya bukan membahas tentang itu. Kembali ke dua kata diawal paragraf satu yaitu “Saya Pancasila”. Menurut Saya, ini pernyataan yang bagus karena menyatakan bahwa Saya (adalah pendukung) Pancasila. Namun, Saya agak tergelitik bagaimana jika ditafsirkan berbeda…..errrr…. Maksudnya begini.

“Saya Pancasila” – (Hmmmm… Sebagai WNI, memangnya selama ini Anda bukan pendukung Pancasila ya? Sebelumnya apa memangnya?) #JustKepo #BaruDeklarasiTernyata

Kembali pada judul, bukankah setiap Warga Negara Indonesia itu by default adalah pendukung ideologi Pancasila? Memangnya sebelumnya (lebih tepatnya baru-baru ini), Pancasila itu punya pesaing baru? Baru sekarang ini ada “Saya Pancasila”, sebelumnya Saya tidak pernah tau ada pernyataan seperti ini. Jika mengacu pada KBBI  setahu Saya adalah Pancasilais yang artinya pendukung.

Selingan sebentar, sebagai Muslim Saya selalu mencoba mengkaitkan apa yang terjadi di dalam kehidupan dengan Islam termasuk dalam tulisan ini. Dalam Islam, kita diminta menilai sesuatu itu sesuai dzohir-nya. Dzohir adalah apa yang “nampak terlihat”. Lawannya dzohir adalah bathin yang sudah diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi batin. Jadi, kalau menemukan orang mengaku Muslim dan mengerjakan sholat lima waktu ya sudah, itu sudah menjadi bukti ke-Islamannya. Kalau misal ternyata dibalik itu sholatnya ngasal tidak khusyuk, atau di media sosial menjadi akun anonim dan malah menjelekkan agama Islam ya itu lain soal. Selama dia tidak ketahuan dan tidak terbukti oleh khalayak ya berarti itu “urusan dia” dengan Penciptanya. Ingat, setiap perbuatan baik atau buruk di dunia sekecil apapun pasti ada ganjarannya kelak.

Pancasila VS bla bla bla

Balik lagi ke judul, ada apa memang dengan Pancasila? Sekarang ramai sekali di media masa arus utama (AKA mainstream) seolah membenturkan Pancasila dengan (yang katanya ada) ideologi Radikal. As usual, kalau ada “radikal” pasti langsung dengan cepat (bahkan lebih cepat dari proses masak mi instan) ditujukan kepada umat Islam dimana pun mereka berada termasuk di negeri tercinta Indonesia ini. Tiap kali melihat televisi arus utama selalu saja yang diangkat adalah sisi buruk umat Islam seolah ditempat lain tidak ada yang berkelakuan buruk.

Ditambah lagi pernyataan paranoid koar-koar “Indonesia bukan negara Islam, jangan terapkan hukum Syariat Islam karena Indonesia adalah negara Pancasila“. Aneh, 87% penduduk negeri ini adalah penganut Islam lho Pak/Bu. Apakah tidak sadar, di Indonesia sholat 5 waktu dilaksanakan tanpa gangguan, puasa Ramadhan dilaksanakan secara meriah dan dipublikasikan dimana-mana, ada badan pemerintah yang mengurusi zakat dan haji, jika akan menikah harus sah secara agama juga, boleh melaksanakan majelis ta’lim dimanapun kapanpun (walaupun baru-baru ini saja ada pembubaran paksa) dan masih banyak lagi.

Indonesia dan Syariat Islam

Diatas adalah segelintir contoh Syariat Islam lho, jadi menurut Saya Indonesia itu SUDAH menerapkan hukum-hukum yang sesuai dengan Islam TAPI tidak semuanya diterapkan. Contoh yang tidak diterapkan adalah hukum hudud yang menjadi momok menakutkan bagi pelakunya. Kalau bukan pelakunya ya nyantai seperti di pantai. Jadi “Syariat Islam” mana yang dimaksud ya? Islam agama Saya itu agama yang komprehensif mengatur dari mulai urusan mengelola negeri (politik dan ekonomi) sampai ke urusan memotong kuku lho Pak/Bu, jadi tolong bicaranya yang lebih jelas!

Banyak sekali pernyataan yang seolah menyatakan Syariat Islam dan Pancasila itu bertolak belakang. Ckckck…. Benar-benar yah kelakukan ini bikin tepok jidat. Mbok ya dicek dulu data sejarah Republik ini, mayoritas penduduknya memeluk Islam, yang berperang melawan penjajah ya mayoritas umat Islam tanpa mengesampingkan peran yang lain. Founding father-nya pun mayoritas orang Islam, yang dari dzohirnya telah menjalankan dan memahami agamanya. Mau bukti lain kalau Pancasila itu sejalan dengan Syariat Islam. Coba cek gambar ini.

WhatsApp Image 2017-06-02 at 11.29.41
Isi Al-Quran di dalam Pancasila (sumber)

Tidak aneh DNA Islam mengalir di Pancasila karena founding father Republik ini mayoritas adalah orang Islam dan ya pastinya sedikit atau banyak mengambil nilai-nilai Islam.

Jadi…

STOP membenturkan Islam dengan hidden agenda Kalian, Umat Islam bukan umat bodoh yang mudah digiring opininya. Inshaa Allah semakin dizalimi malah semakin kuat bersatu. Saya pernah bercerita mengenai peran ulama dan santri di dalam kemerdekaan Republik ini, tidak main-main taruhannya adalah nyawa.

Sebagai anak cucu pejuang, tidak mungkin malah merusak kesatuan dan keutuhan apa yang sudah capek-capek dibangun ini. Bagi Saya pribadi, itu sama saja mengkhianati perjuangan almarhum Kakek Saya bertaruh nyawa keluar masuk hutan Jawa Barat kabur dari kejaran penjajah donk? Belum lagi, berkhianat terhadap agama sendiri yang telah diserap menjadi ideologi Negara.

Kecintaan kepada Allah, Islam, Rasul dan Qur’an

Setiap Muslim dididik agar lebih cinta kepada Tuhannya, Agamanya, Rasulnya dan Kitab Sucinya dibandingkan dengan mencintai dirinya sendiri. Jadi siapapun itu jangan coba-coba mengolok-olok atau menantang, apalagi mereka yang mengaku Muslim tapi Islamphobia. Inshaa Allah Saya akan membahas topik terpisah mengenai Muslim tapi nyinyir dan paranoid dengan agamanya sendiri dalam “Kafir setelah beriman“. Saya berdoa, semoga pihak-pihak yang mendiskreditkan Islam diberi hidayah.

Tidak perlu merasa sebagai pihak yang Paling….. (bla bla bla)… kok, ibarat Pahlawan tidak butuh diakui sebagai Pahlawan karena toh pada akhirnya orang lain yang menilai kalau orang tersebut layak dianugerahi gelar kepahlawanan. Contoh lain, tidak perlu Raisa menulis status kalau dia penyanyi cantik dan berbakat, orang-orang juga sudah mengerti dengan sendirinya kok.

Kejadian berikutnya, tidak butuh waktu lama Allah subhanahuwata’ala menunjukkan kuasanya kalau ternyata ada “orang” yang modal menulis status “Saya Pancasila” di sosial medianya ternyata juga orang yang mengusulkan sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dihapuskan. Manusia yang seperti ini kok mengaku pendukung Pancasila??? epic… Silahkan di googling sendiri beritanya ya!

Oiya satu lagi —–> “Saya Pancasila” – (Baiklah, besok-besok Saya akan panggil Anda dengan nama baru ini dan semoga Anda nengok). #DeklarasiNamaBaru #DeklarasiJulukanBaru

Note: Ini hasil tulisan pribadi Saya dan bukan hasil plagiat. So, JANGAN DIBIASAKAN PLAGIAT YA! Malu ah kalau masih muda sudah copy paste kerjaan/tulisan orang lain dan mengaku sebagai hasil karyanya.

Camkan itu kisanak!!!! Waspadalah, waspadalah!!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s