Opinion · Personal Notes

Jas Merah

ASSALAM

Hi!

Sesuai dengan judul yang Saya tulis “Jas Merah” yang merupakan akronim dari Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalimat ini diucapkan oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya di Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 21 di tahun 1966. Pertanyaannya adalah, kenapa Saya memilih untuk mengangkat topik ini? Mari kita bahas dibawah!

Sejarah memang tidak selalu ditulis dengan tinta emas karena terkadang begitu menyakitkan untuk dikenang, namun dengan sejarah pula seseorang atau golongan dapat belajar untuk menjadi lebih baik lagi dikemudian hari. Pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga istilahnya. Hubungan antara makna sejarah dengan apa yang akan Saya tulis ini adalah karena semakin gencarnya media-media mainstream membahas mengenai hal-hal yang mereka sebut dengan “radikal”, “intoleran”, “anti-PANCASILA”, “anti-NKRI” dan stigma negatif lainnya yang sayangnya justru ditujukan kepada Umat Islam yang tak lain adalah pendiri Republik ini.

Lalu siapa sebenarnya orang, pihak atau golongan yang diberikan label ini oleh segelintir oknum tidak bertanggung jawab tersebut? Lalu, mengapa mereka berani menuduh dan mengucapkan seperti itu?

“Lo ga dukung calon X berarti Lo Intoleran!”

“Lo simpati sama ormas Y berarti lu anti-PANCASILA”

Kalimat diatas adalah beberapa contoh kalimat yang sekarang ini sering diucapkan/ditulis terutama di media sosial. Sebelumnya Saya pernah menulis artikel mengenai  dunia “maya” dan fenomena mengapa orang-orang “merasa dirinya penting” sehingga mulut dan jemarinya bebas berkomentar apapun tanpa didasari tabayyun terlebih dahulu. Menurut pendapat Saya, siapapun yang melontarkan kalimat contoh diatas sejatinya merupakan pihak yang melupakan sejarah, terlebih jika kemudian tuduhan-tuduhan tendensius ini dialamatkan kepada Umat Islam yang merupakan mayoritas di Republik Indonesia ini.

Muslim, tapi kok alergi Islam?

Sebegitu nyinyir kah dengan Umat Islam? Okelah kalau yang melakukan ini non-muslim, karena Saya ber-khusnudzon “mungkin” mereka tidak tahu tentang Islam karena mendapat informasi yang keliru, mungkin kebetulan muslim disekelilingnya memberikan contoh akhlak yang bertolak belakang dengan ajaran Islam. Tetapi, anehnya yang ikut nyinyir ini adalah orang yang ngakunya Islam sendiri. Ramai di media sosial menulis status yang artinya kurang lebih sama dengan apa yang Saya contohkan diatas. Apa yang terjadi kemudian sangat gaduh sehingga Saya yakin orang awam yang juga merupakan netizen akan mudah terpengaruh dengan kalimat-kalimat “menghakimi orang lain” seperti itu. Belum lagi informasi dari media mainstream yang memang jelas keberpihakannya menyudutkan Islam. Menurut Saya, Islam dan Republik Indonesia adalah satu kesatuan dan tidak mungkin dipisahkan apalagi jika sampai sejarahnya diputarbalikkan. Saya coba angkat sejarah yang terjadi di Republik Indonesia pada tahun 1945 melalui timeline grafis berikut ini.

Timeline 1945
Momen bersejarah Republik Indonesia di tahun 1945

Saya yakin seluruh penduduk Indonesia pasti ingat peristiwa tanggal 17 Agustus 1945 dan 10 November 1945 karena selalu diperingati setiap tahunnya.  Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sedangkan tanggal 10 November 1945 merupakan Hari Pahlawan, perlawanan ­arek-arek Suroboyo yang bertepur habis-habisan selama 3 minggu melawan pasukan sekutu pimpinan Inggris bersama dengan NICA (Netherlands Indie Civil Administration) Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia setelah Jepang dikalahkan. Lalu bagaimana dengan dua peristiwa lain yang terjadi di bulan September dan Oktober 1945 itu? TAHUKAH ANDA DENGAN PERISTIWA INI? Ingat judul tulisan ini….JAS MERAH!

Ke-alfaan kaum pengidap Islamphobia

Tanggal 11 September 1945 muncul Fatwa Djihad oleh Hadratush Syaikh KH. Hasyhim Asy’ari yang dengan tegas menolak dan menyerukan jihad melawan penjajah, terlebih setelah kemudian pada tanggal 19 September 1945 pasukan sekutu AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) mendarat di Indonesia. Poin-poin Fatwa Djihad ini adalah sebagai berikut.

  1. Hukum membela negara dan melawan penjajah adalah fardlu ‘ain bagi setiap mukallaf yang berada dalam radius masafat al-safar 
  2. Perang melawan penjajah adalah jihad fi sabilillah, dan oleh karena itu umat Islam yang mati dalam peperangan itu adalah syahid
  3. Mereka yang mengkhianati perjuangan umat Islam dengan memacah belah persatuan dan menjadi kaki tangan penjajah, wajib hukumnya dibunuh.

Silahkan Googling juga “fatwa ulama resolusi jihad Oktober 1945“, pasti didapati tulisan di Koran Kedaulatan Rakjat 26 Oktober 1945 dengan headline yang menciutkan nyali penjajah.

surat-kabar-kedaulatan-rakyat-8-november-1945
Headline “60 Juta Kaum Muslimin Indonesia Siap Berjihad Fi Sabilillah” – Kedaulatan Rakjat 26 Oktober 1945

Resolusi Jihad sendiri dikeluarkan melalui Fatwa Ulama di Bubutan Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945. Dibagian bawah headline Koran Kedaulatan Rakjat terdapat isi Fatwa Ulama yang dikeluarkan di Surabaya tersebut ketika kondisi genting karena pasukan Belanda melalui sekutu datang kembali. Dari Fatwa Ulama inilah Umat Islam semakin bergelora berjuang, mengorbankan nyawanya untuk jihad fi sabilillah mempertahankan kemerdekaan yang telah di proklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Detail isinya sebagai berikut, coba liat yang Saya beri warna kuning!

Resolusi
Fatwa Ulama – Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945

Siapa Anda yang berani mengerdilkan peran Ulama dan Umat Islam? Nyinyir dengan risalah yang dibawa Rasulullah Salallahu’alaihiwasallam, mengolok-olok Umat Islam sebagai “gerombolan” anti-NKRI, anti-PANCASILA? Apakah sudah lupa dengan sejarah lahirnya Republik ini? Bukankah yang mendirikan Republik ini adalah Umat Islam?

Semboyan “Merdeka atau Mati”, paralel dengan “Hidup mulia atau Mati Syahid”

Jujur saat dibangku Sekolah Dasar Saya tidak pernah (atau lupa) mendengar dua kejadian di bulan September dan Oktober 1945 ini padahal Saya sekolah di Sekolah Dasar Islam. Walaupun tidak banyak diekspos dalam buku-buku sejarah, perjuangan Ulama ini pada akhirnya akan tetap dikenang sebagai kontribusi mereka memimpin Umat Islam mempertahankan kemederkaannya semata-mata demi mengharap ridho Allah subhanahuwata’ala. Begitu banyaknya pengorbanan Umat Islam dengan dipimpin Ulama untuk negeri ini dan apakah dengan mudah kita semua sebagai anak cucu melupakan perjuangan mereka? Coba bandingkan saat ini dengan apa yang kita sebagai masyarakat awam telah berikan kepada para Ulama yang ada disekitar kita? #SekedarIntrospeksi

Semoga jiwa-jiwa Umat Islam yang  telah berkorban ini diberikan pahala gugur sebagai Syahid, Allahumma Aamiin….

Pola pikir seorang Muslim tentang kemuliaan hanya dua yaitu Hidup mulia berlandaskan Quran dan Sunnah atau Mati mulia sebagai syuhada. Tidak ada yang rugi dari dua pilihan tersebut.

Sebagai penutup, sekarang mari kita dengar suara rekaman pidato Bung Tomo yang fenomenal itu menjelang dimulai perang 10 November 1945. Tapi awas jangan main edit sembarangan ya!!!

Seorang pemuda yang saat itu berusia 26an tahun dengan nama asli Soetomo membangkitkan Ghirah penduduk Surabaya (Umat Islam khususnya) untuk bangkit melawan penjajah dengan menggunakan spirit ber-jihad fii sabilillah mengharap ridho Illahi. Tidak aneh jika kemudian dalam pidato fenomenal ini terucap kalimat Takbir Allahu Akbar. Dengan cara itulah beliau membangkitkan semangat perjuangan Rakyat Surabaya yang mayoritas Islam. Pasukan yang dihadapi pun tidak main-main, professional dan veteran perang dunia II pasukan elit Ghurka penakluk pasukan dessert rats Erwin Rommel Jerman di Afrika.

 

Sumber:

http://www.nu.or.id/post/read/25471/bung-karno-temui-mbah-hasyim-sebelum-10-november-1945

http://www.republika.co.id/berita/koran/islamia/15/08/20/ntdmlt16-indonesia-ideal-menurut-kh-hasyim-asyari

http://www.muslimedianews.com/2014/09/resolusi-jihad-nu-22-oktober-1945.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s