Personal Notes

40 Hari Jauh Dari Tanah Air

Assalammualaikum Wr. Wb.

Hi!

Tulisan ini berkisah pengalaman pribadi pada tahun 2016 lalu tepatnya di bulan Agustus hingga Oktober. Bulan ketika Saya sekeluarga diberi kesempatan untuk menunaikan Haji ke tanah suci. Sebelumnya Saya pernah menulis dengan topik yang sama disini. Tetapi kali ini, Saya akan membahas lebih dalam mengenai prosesi Haji dan pengalaman yang dialami. Walaupun ada suka dukanya, tetapi Saya pastikan sebagian besar adalah pengalaman menyenangkan dan bahagia. Bagaimana tidak bahagia, sebagai seorang Muslim menunaikan ibadah Haji merupakan kewajiban karena tertulis didalam rukun Islam yang kelima bagi mereka yang mampu secara fisik dan finansial. Disana pun nikmat sekali, ibarat tamu agung yang dijamu sedemikian rupa difasilitasi dan diberikan kemudahan walaupun harus berdesakan dengan jamaah Haji lain. Khidmat pelayanan yang diberikan sudah sangat baik sekali baik oleh khadimul haramain (penjaga dua tanah suci) kerajaan Arab Saudi.

Terkait dengan individu yang akan berhaji atau bahkan juga Umroh, seringkali didapati kondisi sekeliling (fisik dan finansial) seseorang sangat mendukung untuk berhaji namun apa daya hati “belum merasa terpanggil” dengan sejuta alasan. Kondisi lain justru fisik dan finansial mendukung namun ternyata “tertunda” karena perkara menunggu ketersediaan kuota yang sekarang dapat mencapai masa tunggu hingga belasan bahkan puluhan tahun. Alhamdulillah ternyata Saya sekeluarga tidak mengalami masa tunggu yang terlalu lama, “hanya” 6 tahun sejak mendaftar tahun 2010 dan kemudian dipanggil 2016.

Kelompok Terbang Surabaya

Ketika mendapatkan informasi diawal tahun 2016 bahwa kami akan berangkat, hati ini rasanya campur aduk Senang dan Takut. Senang karena bisa berhaji sekeluarga dan ini pertama kalinya karena belum pernah melakukan Umroh, juga muncul perasaan takut karena Saya akui tidak paham prosesinya dan (masih) cinta dunia. Hypocrite? Bisa jadi, karena seperti apa yang Saya sebutkan sebelumnya bahwa manusia selalu saja punya berjuta alasan untuk menunda beribadah. Tetapi setiap kali ingat bagaimana perjuangannya untuk mendaftar Haji, rasanya semuanya bak seteguk air dikala berbuka puasa mendengar kabar akan berangkat haji ini #halah.

Berangkat dari Kloter (Kelompok Terbang) Surabaya bersama rombongan dari kota-kota lain seperti Blitar, Sidoarjo, Nganjuk dan tentu saja Kota Surabaya. Bisa dilihat dari sini saja Saya sudah sepantasnya bersyukur, coba lihat bagaimana saudara-saudara Muslim dari Blitar dan Nganjuk yang harus menempuh perjalanan darat minimal 4 jam ke Surabaya untuk dikumpulkan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, bandingkan dengan Saya yang cuma 20-30 menit perjalanan ke Asrama Haji tersebut.

Esok harinya start ba’da (sesudah) ashar satu per satu jemaah diangkut dengan bis menuju Bandara Internasional Juanda sambil dikawal oleh voorijder. Pesawat yang mengangkut rombongan Saya baru diterbangkan jam 7:30 malam dengan total satu kloter 500an jemaah. Saya sendiri kebagian berangkat setelah maghrib dan prosesnya cukup melelahkan karena administrasi yang panjang kali lebar termasuk scanning tas di Asrama haji. Baru kali ini merasakan naik bis bebas hambatan karena dikawal Pak Polisi dan setelah itu masuk gerbang VVIP Bandara Internasional Juanda, langsung menuju area parkir pesawat. Selanjutnya menikmati penerbangan secara langsung menggunakan Saudia Airlines dari Bandara Internasional Juanda menuju Bandara Pangeran Abdul Aziz di Madinah selama 14 jam.

Arbain di Madinah

Kedua kalinya Saya bersyukur, coba bayangkan dahulu untuk pergi berhaji harus menggunakan kapal laut perjalanan berminggu-minggu. Bahkan dengar cerita dahulu jika ada jemaah yang wafat di Kapal ya jasadnya langsung dibuang ke laut. Jaman sekarang enak tinggal naik pesawat setengah hari perjalanan sudah tiba di tanah suci. Sebagai negara dengan jemaah haji terbanyak, Kloter Indonesia mendarat di dua kota yaitu Madinah dan Jeddah. Jeddah merupakan kota pelabuhan di tepi laut merah dengan jarak tempuh ke Mekkah sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil. Sedangkan jarak Madinah kurang lebih ditempuh dengan durasi 4-5 jam perjalanan, ibarat perjalanan Surabaya ke Semarang menggunakan mobil tapi dengan sepanjang jalan adalah jalan bebas hambatan alias tol!!! Intermezo – Infrastruktur jalan tol disini memang ajib sekali, lebar jalurnya, tidak ada gerbang tol pembayaran, motor boleh masuk dan benar-benar tidak ada kemacetan.

Berhubung Kloter Saya ke Madinah terlebih dahulu, maka kami melakukan ritual yang disebut dengan Arbain. Sebetulnya tidak ada hubungan ritual ini dengan ritual Haji, intinya Arbain ini adalah sholat 5 waktu selama 40 kali alias 8 hari di masjid Nabawi. Bagi yang tidak sanggup pun sebetulnya tidak masalah karena memang tidak berpengaruh ke ritual Haji, namun biasanya jemaah sangat bersemangat karena memanfaatkan momentum sedang berada di Madinah. Seperti yang disebutkan pada Hadist Riwayat Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406 bahwa pahala sholat di Masjid Nabawi 1000 kali lebih besar dibandingkan dengan masjid lain kecuali Masjidil Haram. Tetapi, sekali lagi Saya bilang “tetapi” karena terkadang ada jemaah yang saking semangatnya akhirnya malah memaksakan fisiknya sehingga jatuh sakit padahal ritual utamanya (Haji) belum dilakukan. Bukan apa-apa, ini di negara orang yang suhunya sangat jauh berbeda dibanding Indonesia. Bukan cuma panas terik matahari, di musim Haji adalah panas-panasnya suhu yang mencapai 55 derajat celcius!!! Selama disana, kaki rorombeheun (bahasa sunda tumit pecah-pecah) adalah hal biasa dan disini bukan lagi bibir yang pecah-pecah tapi bisa-bisa muka pun pecah-pecah. Bandingkan dengan Indonesia yang paling banter Surabaya 31-35 derajat celcius, kalau Bandung dan Malang sudah pasti dibawah itu suhunya.

Yang Saya ingat selama di Madinah adalah Saya dan keluarga berziarah ke tempat percetakan Al Quran dan ke Jabal Uhud dimana Saya dapati pedagang kurma tua yang bahkan paham bahasa “seteng-gah kilo lima Riyal” (dengan logat Arab). Tidak ketinggalan juga mengunjungi Kebun Kurma yang terdapat toko kurma ditengahnya tetapi tidak satupun kurma yang dijual berasal dari kebun disekitarnya. Bingung juga kenapa demikian?!? Pegawainya pun beberapa berasal dari Indonesia. Di beberapa lokasi malah pedagang gerobaknya orang Indonesia dan menerima pembayaran dengan Rupiah.

IMG_20160820_072159
Foto di Jabal Uhud

Miqot

Berhubung lagi malas membuat sendiri infografik, Saya ambil saja dari internet mengenai lokasi beberapa tempat miqot ini. Jadi miqot adalah “tempat berniat” sebelum melakukan Haji atau Umroh. Niat ini intinya membaca do’a, menggunakan pakaian ikhram dan sholat sunnah dua rakaat di lokasi-lokasi yang telah ditentukan. Jangan lupa harus dalam keadaan suci dengan berwudhu, kalaupun ditengah perjalanan menuju Masjidil Haram batal dan harus wudhu lagi pun tidaklah masalah selama pantangan berikhram tidak dilanggar.

miqat
Sumber: SatuTours

Selama di tanah suci, Saya hanya melakukan miqot di dua tempat yaitu Zulhulaifah (Bir Ali) dan Tan’im saja saat Umroh. Saat akan melaksanakan Haji, pada tanggal 8 Dzulhijjah Saya melakukan niat dan berikhram di Hotel sebelum berangkat ke Mina. Untuk lokasi miqot Umroh Jakranah/Ji’ranah tidak sempat Saya datangi karena hanya dilalui ketika berwisata saja.

Terkait miqot pertama, lebih mudah buat Saya untuk menyebutnya dengan nama Bir Ali (sumur milik Ali) yang disinggahi ketika menuju Mekkah setelah 8 hari di Madinah. Haji yang saya lakukan disebut dengan Haji Tamattu, karena melakukan Umrah terlebih dahulu sebelum melakukan ritual Haji. Adapaun jenis lainnya yaitu Haji Ifrad dan Qiran tidak Saya bahas di tulisan ini. Buat yang ingin mengetahui perbedaannya dapat membuka link ini. Di Masjid Bir Ali tersebut ternyata ada salah satu petugas kebersihannya adalah orang Indonesia. Yang Saya amati, banyak yah orang Indonesia untuk pekerjaan seperti ini bersama dengan tenaga-tenaga kasar dari Burma dan Bangladesh.

Prosesi melaksanakan ibadah Haji

Inti dari Haji adalah dengan berada di Arafat, Muzdalifah dan Mina. Ketiga tempat ini tidak terlalu jauh lokasinya (sekitar 3-5km masing-masing jaraknya), sementara jarak dari Masjidil Haram ke Mina sekitar 9km. Intinya ARMINA (Arafat, Muzdalifah, Mina) ini padang pasir yang luas serta merupakan cobaan fisik yang nyata ketika menjalani prosesi Haji.

  • Arafat adalah tempat Wukuf berkumpulnya seluruh jemaah haji secara bersamaan tanpa terkecuali di dalam tenda-tenda semi-permanen, merupakan syarat Haji. Fyi katanya pohon-pohon yang ada disini adalah sumbangan Presiden Soekarno karena dulu begitu gersang lokasinya. 
  • Muzdalifah adalah tempat terbuka untuk menginap semalam saja dan untuk mencari batu kerikil yang digunakan melempar Jamarat.
  • Mina adalah tempat perkemahan (tenda-tenda “agak lebih” permanen daripada Arafat) sekaligus tempat melaksanakan lempar Jamarat.

Prosesinya sendiri dilakukan dalam empat malam yaitu 9, 10, 11 dan 12 Dzulhijjah. Tanggal 9 Dzulhijjah merupakan hari melakukan Wukuf di padang Arafat sementara bagi yang tidak berhaji tanggal 10 Dzulhijjah melaksanakan sholat Iedul Adha.

Kebetulan Saya dan rombongan lebih lama berada di Mina karena malam tanggal 8 Dzulhijjah sudah diberangkatkan ke Mina duluan. Biasanya yang melakukan ini jumlahnya sedikit dan disebut dengan Tarwiyah. Umumnya jemaah Haji berangkat pagi tanggal 9 Dzulhijjah dan langsung menuju Arafat untuk melakukan Wukuf hingga menjelang maghrib. Detail kegiatan jemaah Haji hingga tanggal 10 Dzulhijjah dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Prosesi Haji
Prosesi Haji Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Wukuf ini ibarat nantinya manusia dikumpulkan di padang Mahsyar ketika di akhirat, bedanya nanti tidak ada yang bisa dilakukan kecuali harap-harap cemas apakah diberi pertolongan Allah SWT atau justru dicuekin karena kebanyakan dosa, Naudzubillah.

Ketika di Muzdalifah, jemaah Haji mencari batu kerikil dan tidur beralaskan pasir juga beratapkan langit.  Selepas jam 12 malam (dihitung telah melaksanakan menginap di Mudzalifah), satu persatu bis mengangkut jemaah Haji untuk menuju ke Mina. Bisa dibayangkan bagaimana berdesakannya kan? Disinilah salah satu ujian kesabarannya karena sering Saya dapati jemaah haji marah-marah karena antriannya diserobot. Sudah ngantuk, disuruh antri bis, bawa barang-barang dan berdesakan pula.

Setibanya di Mina (tenda), beberapa jemaah ada yang langsung lempar Jamarat dan ada yang istirahat dahulu. Umumnya yang ingin segera melempar Jamarat adalah supaya cepat segera tahallul awal (mencukur rambut tahap awal) sehingga terlepas dari pantangan berikhram. Pada tanggal 10 Dzulhijjah ini, jemaah haji mempunyai 2 opsi setelah tahallul awal yaitu langsung menuju ke Masjidil Haram untuk Tawaf dan Sa’i dan kemudian tahallul qubro atau tetap berada di Mina hingga proses melempar Jamarat selesai. Kebetulan rombongan Saya tetap berada di Mina. Kegiatan selama di Mina dapat dilihat di gambar berikut.

Selama di Mina
Kegiatan jemaah Haji selama di Mina 11, 12 hingga 13 Dzulhijjah karena kami Nafar Tsani

Jamaah Haji dari Asia Tenggara biasanya disarankan tidak memaksakan lempar Jamarat di waktu dhuha (jam 8an pagi hingga 11an) karena alasan keamanan. Rasulullah melakukannya pada periode waktu ini (dhuha), sehingga dianggap lebih afdol dan seluruh jamaah Haji berbondong-bondong dari seluruh dunia melempar jamarat pada periode ini sehingga resiko berdesakan menjadi tinggi. Karena fisik orang Asia Tenggara lebih kecil, sebaiknya mengalah saja agar lebih tertib dan menghindari insiden, Saya akhirnya berangkat selepas subuh (sebelum dhuha). Kurang tidur, lelah, dan harus jalan kaki sekitar 14km total bukanlah perkara yang mudah, apalagi buat orang-orang yang sepuh. Saya saja yang masih dibawah usia 30 tahun merasakan kelelahan. Cuma hikmahnya selama disini jalan kaki melalui terowongan Mina sangat tertib sekali, makanan sangat berlimpah, enak pula dan banyak juga yang gratisan karena masyarakatnya bahu membahu bersama pemerintah membagikan makanan untuk tamu Allah iniJangan heran kalau banyak yang berteriak “sabilillah…sabilillah” sambil membagikan makanan atau minuman. Padahal arti “sabilillah” adalah berjalan di jalan Allah SWT hanya mengharap ridho-Nya, tetapi jadi identik dengan bagi-bagi gratisan 😀

Sebagian besar aktifitas selama berhaji adalah sholat 5 waktu, istirahat, makan, mengaji dan ziarah ke beberapa lokasi. Bahkan Saya dapati juga beberapa jamaah Haji Indonesia merokok tanpa henti diruangan ber-AC lobby Hotel. Bisa dibayangkan bagaimana mulek dan baunya. Mereka enggan keluar ruangan karena diluar suhunya panas. Melihat seperti ini, Saya jadi aneh jika sebagian masyarakat di tanah air seolah mengkultuskan orang yang baru pulang Haji. Ada pula yang minta air minumnya didoakan. Ajaran darimana ini sebetulnya? Apakah tidak bisa bersikap biasa saja? Setelah melakukan Haji itu tidak serta merta menjadi hafiz Quran juga sih… Sudah benar ajaran Islam itu simple, mau berdoa silahkan langsung minta ke pencipta, penguasa, perawat alam raya beserta isinya Allah SWT tanpa perlu melalui perantara dan selalu dapat dihubungi aktif 24 jam kapanpun dimanapun 🙂

Cerita ini akhirnya selesai juga…

Tidak terasa panjang juga Saya menuliskan pengalaman berhaji ini, padahal masih banyak yang bisa ditulis. Intinya, untuk Muslim segeralah mendaftarkan diri untuk berhaji. Kalau ada rejeki sebaiknya langsung saja daftar karena ini kesempatan terbaik dalam hidup. Syukur-syukur kalau selagi masa menunggu jatah kuota Haji bisa melaksanakan Umroh juga. Ga akan menyesal karena justru malah akan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.  Toh, Inshaa Allah baru niat saja sudah dicatatkan pahala berhaji walaupun misal ternyata umur tidak mencukupi. Saya juga mengamati bagaimana penduduk Mekkah dan Madinah sebegitunya adab dengan tamu sampai-sampai ada saja yang mereka bagikan. Tidak cuma makanan, bahkan mereka juga membagi-bagikan uang. Pengalaman di Mekkah ada Bapak-bapak yang membagikan uang 1 Riyal per jamaah sambil teriak “satu halal dua haram”. Soal pembagian makanan jangan ditanya lagi, mulai dari “PopMi Indonesia”, Es Krim satu kontainer, sampai Ayam “Al-Baik” pasti ada walaupun random waktu membaginya. Bahkan jamaah Haji ONH Plus pun ikut rebutan mencari gratisan 😀

Akhir kata, semoga bermanfaat.

Iklan

One thought on “40 Hari Jauh Dari Tanah Air

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s