Economy · Opinion · Technology

Kisah Mega Akuisisi 2016 Sebagai Strategi Bisnis

Assalammualaikum Wr. Wb.

Hi!

Dalam berbisnis, pertumbuhan adalah sesuatu yang selalu dikejar oleh pelakunya. Pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan pangsa pasar, pertumbuhan jumlah pekerja (jika berbasis padat karya), pertumbuhan jumlah produk/jasa yang dihasilkan dan sebagainya. Tentunya untuk mencapai “pertumbuhan” ini terdapat berbagai cara dengan berbagai constraint seperti ketersediaan waktu dan sumber daya yang dimiliki pelaku bisnis tersebut. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan akuisisi terhadap perusahaan lain. Walaupun tidak ada jaminan apakah nantinya akuisisi tersebut akan menghasilkan kesuksesan, namun tentunya mereka bukan orang-orang bodoh jika akhirnya membuat keputusan ini.

Terkait dengan topik ini maka, Saya akan membahas apa yang terjadi pada tahun 2016 lalu. Beberapa perusahaan skala global berbasis teknologi melakukan mega akuisisi dalam rangka untuk mencapai tujuan bisnis mereka yaitu “potensi pertumbuhan bisnis”.

Tulisan ini terinspirasi oleh artikel serupa yang dimuat situs Techcrunch pada bulan Januari 2017, namun apa yang Saya tulis lebih menitikberatkan pada beberapa nama yang “mungkin” lebih familiar dan tidak hanya melihat dari besarnya nilai akuisisi  saja. Aspek lain seperti melihat lebih dalam berupa alasan apa yang kira-kira mendasari terjadinya akuisisi ini ikut dibahas.

5 perusahaan yang akan dibahas dapat dilihat pada grafis dibawah ini.

Mega akuisisi 2016
5 perusahaan teknologi yang melakukan mega akuisisi pada tahun 2016

 

Qualcomm akuisisi NXP semiconductor

Mungkin Anda menyadari bahwa smartphone yang anda gunakan sehari-hari memiliki salah satu komponen yang diproduksi oleh Qualcomm. Qualcomm merupakan produsen dari microprocessor untuk perangkat komunikasi bergerak dengan merek SnapDragon. Ditengah persaingan vendor mobile microprocessor yang semakin sengit, Qualcomm memutuskan untuk membeli NXP semiconductor yang merupakan produsen chip untuk otomotif  dengan harga USD 47 Milyar. Di dalam industrinya, NXP yang berbasis di Belanda ini memimpin penguasaan pasar sebesar 14,5% bersaing ketat dengan perusahaan lain seperti Infeneon Technologies, Texas Instrument dan Bosch. Ekspektasi proses akusisi ini sendiri akan selesai pada periode akhir tahun 2017.

SoftBank akuisisi ARM Holdings

Seperti halnya Qualcomm, produk buatan ARM Holdings juga banyak digunakan pada perangkat cerdas. Bulan Juli 2016 muncul berita bahwa SoftBank akan mengakuisisi ARM Holdings. Dengan diakuisisi oleh SoftBank, ARM Holdings harus delisted saham mereka (kode:ARM) dari London Stock Exchange per September 2016 lalu. ARM Holdings sebagai produsen mobile microprocessor yang berbasis di Inggris dan berkompetisi juga dengan Qualcomm merupakan pemain utama pada industri Internet of Things. SoftBank tertarik untuk berada di industri ini karena berdasarkan data IHS Markit tahun 2016 saja terdapat 17,1 juta perangkat Internet of Things (termasuk smartphone, tablet dan komputer) dan diperkirakan menjadi 30,7 juta pada tahun 2020. Menarik ditunggu juga berita mengenai funding Arab Saudi dengan SoftBank yang terealisasi selepas kunjungan Raja Salman ke Jepang. Seperti diketahui juga bahwa SoftBank sejatinya merupakan operator telekomunikasi dari Jepang, namun ditangan seorang risk addict CEO Masayoshi Son berubah menjadi “investor” yang sangat aktif berinvestasi dan akuisisi baik itu di bisnis telekomunikasi (akusisi 72% kepemilikan Sprint Nextel di Amerika Serikat senilai USD 21.6 Milyar pada tahun 2013) dan investasi pada bisnis lain (salah satunya adalah Tokopedia di Indonesia pada tahun 2014). Beberapa investasi SoftBank dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

20170313SoftbankInvestTable
Sumber: Nikkei

Microsoft akuisisi LinkedIn

Siapa yang tidak mengenal nama Microsoft? Produsen Microsoft Office dan Operating System Windows yang secara de facto terdapat di laptop dan desktop ini tidak ketinggalan melakukan mega akuisisi.  Situs media sosial untuk profesional yaitu LinkedIn adalah “korbannya”. Berita kemunculannya diawali pada bulan Juni 2016 dan prosesnya selesai di bulan Desember tahun yang sama. Sinergi yang sepertinya sangat cocok karena latar belakang yang saling melengkapi, Microsoft sebagai penyedia perangkat lunak yang dapat dipastikan ter-install di komputer perkantoran dan LinkedIn sebagai media sosial profesional untuk mempublikasikan curriculum vitae penggunanya. Jumlah pengguna LinkedIn yang mencapai 467 juta (data tahun 2016) merupakan daya tarik tersendiri bagi perusahaan yang mengakuisisinya, dan dapat dipastikan juga data yang tersedia adalah valid karena merupakan platform media sosial pencari kerja untuk para profesional.

Oracle akuisisi NetSuite

Oracle membeli NetSuite? Untuk kedua nama ini mungkin tidak se-familiar 3 nama sebelumnya kecuali di telinga mereka yang mengikuti perkembangan teknologi. Seperti yang kita ketahui juga bahwa Oracle yang dimiliki oleh Larry Ellison ini pernah melakukan mega akuisisi dengan membeli Sun Microsystem pada tahun 2009 senilai USD 7.4 Milyar. NetSuite sebagai penyedia layanan Komputansi Awan untuk korporasi (baca: Enterprise Resource Planning) dilihat Oracle berpotensi untuk meningkatkan layanan untuk pangsa pasar ini. Oracle mendapatkan kepemilikan sisa NetSuite sebanyak 53% melalui akuisisi ini setelah sebelumnya sejak tahun 2014 telah dimiliki oleh Ellison dan keluarganya sebanyak 47% (berupa common stock). Perlu diketahui, Larry Ellison dan pendiri NetSuite Evan Goldberg memang memiliki kedekatan dalam bisnis, proses akuisisi ini selesai pada bulan November 2016 lalu. Di industri ini, NetSuite bersaing ketat dengan Salesforce, SAP serta Microsoft dan telah menghasilkan revenue senilai USD 243.9 juta per kuartal ketiga tahun 2016 lalu.

Samsung akuisisi Harman International

Terakhir, Samsung Electronics yang membeli kepemilikan saham produsen perangkat audio ternama yaitu Harman International Industries yang bebasis di Amerika Serikat. Harman International Industries merupakan pemilik merek Harman Kardon dan JBL yang dikenal sebagai produsen speaker kelas premium. Proses akuisisinya sendiri baru selesai bulan Maret 2017 lalu. Harman International Industries pada tahun 2016 telah menghasilkan revenue USD 7.2 Milyar, nantinya Harman akan diberdayakan oleh Samsung Electronics untuk menghasilkan produk audio premium untuk pangsa pasar otomotif. Ini merupakan bukti keseriusan mereka (Samsung Electronics) dalam memasuki bisnis teknologi audio pada otomotif walaupun tidak menutup kemungkinan juga nantinya smartphone kelas atas mereka akan menggunakan perangkat audio Harman Kardon sekaligus memberikan “tekanan” pada produk-produk Apple Inc.

Melihat nilai akuisisi kelima perusahaan diatas tentunya sebagai orang awam akan tercengang. Bayangkan nilainya ternyata lebih besar dibandingkan dengan investasi langsung Singapura ke Indonesia melalui BKPM yang senilai USD 9.2 Milyar. Bahkan juga nilai ekspor Indonesia tahun 2016 yang senilai USD 13.77 Milyar (nilai akuisisi oleh Qualcomm, SoftBank dan Microsoft). Walaupun tidak apple-to-apple, ini bukti bagaimana perusahaan bisa lebih besar (baca: mahal) nilainya dari total perdagangan dan investasi negara dengan segala kekayaan alamnya seperti Indonesia. Jadi berandai-andai apa jadinya jika nilai itu digunakan untuk investasi secara langsung ke Indonesia? Mungkin pemegang saham Qualcomm cs langsung mendapatkan gelar “warga negara kehormatan”, “presiden kehormatan” atau apapun itu yang jelas bukan “santri kehormatan” (eh). Tidak hanya itu, dapat dilihat juga bahwa yang membuat akusisi tersebut bernilai tinggi bukan karena ketersediaan fix asset tetapi lebih kepada jumlah pengguna eksisting layanan, kelengkapan data pengguna eksisting, kepemilikan patent, penguasaan market share, dan terakhir tentu saja potensi maupun angka real “pertumbuhan” perusahaan yang diakuisisi dalam bisnis tersebut. Walaupun kondisi sebaliknya bisa juga terjadi ketika perusahaan yang diakuisisi justru sedang mengalami stagnasi “pertumbuhan” bisnis.

“Beda tujuan antara yang berinvestasi untuk kemudian digunakan sebagai capital akuisisi bisnis yang sudah berjalan dan satu lagi investasi untuk tujuan membangun bisnis dari awal.”

Opinisi Saya, kita bisa melihat juga ternyata sekelas negara pun memiliki intensi untuk melakukan investasi pada perusahaan teknologi. Pada paragraf diatas dibahas mengenai investasi Arab Saudi (juga berinvestasi pada Uber) sebagai negara petro dollar melalui “tangan” korporasi seperti SoftBank sehingga dapat digunakan untuk mengakuisisi, lalu ada negara-negara yang memang dasarnya melek teknologi seperti Finland, Jerman, Israel, China, Korea Selatan hingga Singapura yang pemerintahnya turut serta aktif berinvestasi walaupun lebih ke cakupan yang lebih kecil secara nominal yaitu investasi tahap awal (seed funding). Beda tujuan antara yang berinvestasi untuk kemudian digunakan sebagai capital akuisisi bisnis yang sudah berjalan dan satu lagi investasi untuk tujuan membangun bisnis dari awal. Mungkin dulu pernah ingat bagaimana Temasek Holdings milik pemerintah Singapura melakukan berbagai manuver investasi terhadap beberapa perusahaan besar di Indonesia, serupa tapi tak sama dengan yang dilakukan Arab Saudi saat ini.

Kita bisa melihat kewajaran pola di negara-negara maju tersebut karena sudah terbangun infrastruktur yang memadai untuk menumbuhkan tech startup. Beda kondisi dengan Arab Saudi, dimana mereka memiliki uang namun belum memiliki infrastruktur dan bahkan budaya untuk mengembangkan bisnis tech startup (maaf, Saya bukan underestimate but at least they have plenty of money). 

“… belum pernah mendengar pemerintah Republik Indonesia melakukan “mega investasi” atau “mega akuisisi” pada tech startup yang telah eksis seperti yang dilakukan Arab Saudi…”

Bagaimana dengan Indonesia? Tahun 2016 lalu sudah muncul gerakan 1,000 startup yang bertujuan untuk menghasilkan tech startup unicorn (valuasi senilai USD 1 Milyar seperti Go-Jek). Sepintas ini seperti apa yang dilakukan negara-negara maju seperti yang Saya contohkan, jujur Saya belum pernah mendengar pemerintah Republik Indonesia melakukan “mega investasi” atau “mega akuisisi” pada tech startup yang telah eksis seperti yang dilakukan Arab Saudi pada Uber dan SoftBank. Menurut pendapat Saya, memang lebih cocok demikian karena dilihat dari segi infrastruktur negara (teknologi, kepemilikan capital, kebijakan pemerintah dsb) dan manusianya pun lebih tepat BUKAN menggunakan cara Arab Saudi.

Akhir kata, riset McKinsey menyatakan bahwa tidak ada formula yang pasti agar sukses dalam melakukan akuisisi. Namun mereka merincikannya menjadi 5 tipe akuisisi yang dapat dikatakan sukses yaitu apabila dapat…

  1. Meningkatkan performa target perusahaan
  2. Mencapai titik konsolidasi sehingga menghilangkan kelebihan kapasitas industri
  3. Mempercepat akses pasar bagi produk (atau pembeli) yang dituju
  4. Menghasilkan keterampilan atau mengakses teknologi lebih cepat dengan biaya lebih rendah dibandingkan dengan membangun sendiri
  5. Memperolah target perusahaan yang berpotensi menjadi “pemenang” di industri tersebut setelah bisnisnya dibantu untuk dikembangkan nantinya.

Note: Ada yang bisa bantu Saya memberikan contoh perusahaan Indonesia yang melakukan akusisi sesuai dengan 5 poin diatas? 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s