Economy · Opinion · Technology

Uang Elektronik Ala Indonesia

newseventsimages
Photo by: imperial.ac.uk

Assalammualaikum wr wb.

Hi!

Apa yang pertama kali muncul di dalam pikiran anda jika ada pernyataan seperti ini “membayar tanpa menggunakan ‘uang'”. Boleh jadi, yang terlintas adalah melakukan transfer ke rekening Bank. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi, semakin mudah pula urusan dalam melakukan transaksi keuangan tanpa melibatkan fisik “uang”. Tidak hanya transfer ke rekening Bank tapi lebih dari itu. Pada tulisan kali ini Saya akan membahas mengenai uang elektronik yang ada di Indonesia dan siapa saja penyedia layanannya walaupun tidak semua dapat Saya cantumkan, setidaknya yang akan dibahas adalah nama-nama yang cukup sering terdengar.

Sebelum membahas lebih lanjut, seperti biasa Saya membuat disclaimer terlebih dahulu agar tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Data-data yang berada di tulisan ini hanya berdasarkan informasi publik di media yang muncul pada tahun 2016. Adapun keakuratan datanya bukan tanggung jawab Saya.

Saya akui ter-afiliasi dengan salah satu provider telekomunikasi yang juga menyediakan layanan ini, tetapi Saya tidak menggunakan data internal sama sekali dan hanya menggunakan data publik yang telah dipublikasikan di internet.

Tulisan ini tidak membahas kecanggihan teknologinya, tapi membahas bagaimana keefektifan penerapannya di lapangan berdasarkan pengalaman pribadi penulis.

Jika berbicara mengenai uang elektronik, tentu kita perlu memahami seperti apa bentuknya dan apa bedanya dengan memegang uang secara tunai. Yang paling terasa tentu saja keberadaan fisiknya. Akan sangat merepotkan jika jalan-jalan di pusat perbelanjaan sambil membawa uang tunai Rp 50 Juta dibandingkan dengan cukup membawa satu buah kartu debit/kredit yang bisa digunakan di kasir. Itu contoh jika melibatkan nominal yang cukup besar, bagaimana aplikasi uang elektronik jika digunakan untuk nominal kecil alias receh? Contoh sederhananya dapat dilihat pada video dibawah ini.

Gimana? Paham kan maksudnya? Saya pribadi sering mengalami kondisi seperti video diatas ketika belanja lalu tidak ada uang kembalian. Disisi lain, ingat dulu tiap belanja di minimarket, uang kembalian receh malah sering diganti dengan permen.

Alkisah tahun 2013 lalu Saya pernah bekerja bareng dengan konsultan keuangan dari perusahaan ternama untuk mengerjakan proyek dari kantor. Saking seringnya berdiskusi dengannya, Saya sampai tahu kalau dia sejak SMA hingga kuliah tinggal di Australia sedangkan kedua Orang Tuanya tinggal di Denpasar. Kebetulan dia seorang perempuan dan bercerita punya kebiasaan tidak suka membawa dompet. Kebiasaan ini muncul sejak dia tinggal di Australia karena kemana-mana yang sering dibawa hanya Kartu Pelajar dan Kartu Debit/ATM, jarang sekali dia membawa uang tunai. Karena itulah dia tidak pernah membawa dompet, kebiasaan ini masih terbawa ketika kembali ke Indonesia 2 tahun terakhir walaupun akhirnya malah mempersulit dirinya. Bedanya Kartu Pelajar diganti Kartu Tanda Penduduk, Kartu Debit/ATM masih sama namun bertambah dengan adanya uang tunai minimal Rp 500 Ribu biasanya pecahan 50 ribu. Setiap kali bertemu, barang bawaanya selalu sama yaitu tas laptop dan satu lagi map berisi hardcopy dokumen yang dijejali dengan uang pecahan 50 ribu. Karena tidak semua transaksi bisa dilakukan secara non-tunai, dia terpaksa membawa uang kemana-mana untuk keperluan operasional pekerjaannya yang sangat mobile.

Kembali ke judul utama tulisan ini yaitu mengenai uang elektronik yang telah beredar di Indonesia. Saya mencoba merangkumnya menjadi satu grafik sebagai berikut.

Penggunaan Uang Elektronik 2016
Jumlah pengguna dan kartu beredar uang elektronik di Indonesia tahun 2016

Informasi yang ada pada grafik diatas Saya kumpulkan sendiri berdasarkan informasi yang ada di internet keluaran tahun 2016. Jumlah pengguna maupun jumlah kartu beredar ini merupakan klaim dari pemilik layanannya langsung sehingga kita perlu bertanya lebih dalam. Kira-kira berapa pengguna aktifnya? Berapa jumlah merchant yang menerima transaksi menggunakan layanan ini? Berapa jumlah transaksi per harinya dsb? Namun Saya tidak membahas mengenai ini, Saya hanya akan membahas kira-kira siapa saja penyedia layanannya walaupun diluar nama-nama yang ditulis ini masih ada beberapa penyedia yang lain.

Bisa dilihat juga kategori penyedia layanan uang elektronik ada tiga yaitu Bank, provider telekomunikasi dan diluar keduanya. Dari segi bentuk ada dua yaitu berbasiskan kartu fisik (chip) dan berbasiskan server. Keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga perlu kebijakan yang tepat terlebih dahulu dari sisi pengguna sebelum memilih mana yang sesuai. Sangat dimungkinkan jika seorang pengguna memiliki beberapa uang elektronik sekaligus. Untuk detail keunggulan dan kekurangan uang elektronik berbasir chip dan server dapat dijelaskan sebagai berikut.

Server vs chip
Kelebihan dan kekurangan chip dan server based

Pengalaman pribadi menggunakan uang elektronik berbasiskan kartu fisik (chip) yaitu E-Money milik Bank Mandiri. Paling sering digunakan untuk moda transportasi TransJakarta, gerbang toll dalam kota dan Commuter Line, pernah juga sekali digunakan untuk belanja di Indomaret. Karena berbasiskan chip, prosesnya cepat tinggal di tap ke scanner dan tidak sampai satu detik transaksi selesai (untuk pembayaran di gerbang TransJakarta, toll dalam kota dan Commuter Line). Sementara di Indomaret butuh waktu sedikit lebih lama untuk prosesnya karena petugas kasirnya  memasukkan nomor kartunya terlebih dahulu.

Lain lagi dengan yang berbasiskan server, Saya menggunakan XLTunai untuk melakukan pembayaran di Alfamart. Tiga kali mencoba tiga kali juga mendapatkan pengalaman yang berbeda, yang pertama sukses namun prosesnya agak lama karena perlu akses dulu *123*120# dari nomor XL untuk mendapatkan token. Kurang lebih 20-30 detik lah proses pembayarannya dan belum termasuk memasukkan barang belanjaan ke kantong plastik. Percobaan kedua gagal karena petugas kasir tidak bisa menggunakan, alasannya tidak diberikan pelatihan oleh Alfamart dan dia orang baru. Percobaan ketiga yang epic fail, kelamaan menunggu respon nomor token setelah request melalui *120*120#. Cengok di depan kasir  hampir satu menit karena tiba-tiba hilang sinyal, bikin malu sudah bikin antrian panjang. Ujung-ujungnya lebih cepat bayar dengan uang tunai. Untuk T-Cash dan Dompetku belum pernah Saya gunakan, jadi belum bisa berkomentar lebih banyak. Adapan yang berbentuk Tap dengan stiker (produk T-Cash) pernah diuji coba oleh XLTunai secara internal di tahun 2013, kendalanya sama yaitu stabilitas sinyal.

Untuk pemain lain diluar Bank dan provider telekomunikasi, Saya tertarik menyoroti GoPay milik GoJek. Dari grafik penyedia layanan uang elektronik di paragraf sebelumnya, hanya GoPay yang menggunakan pendekatan berbeda. Berbeda karena layanan utamanya adalah ridesharing pemesanan ojek online, dengan memanfaatkan basis jumlah penggunanya yang besar dan terus bertambah akhirnya GoJek menyediakan layanan pembayaran non-tunai (GoPay). Hanya saja angka yang Saya cantumkan disini yaitu 11,4 juta pengguna sangat bisa diperdebatkan karena hanya berdasarkan estimasi saja. Berita mengenai GoJek menargetkan 30 juta pengguna Gojek pada tahun 2016 pun (mungkin) perlu ditanyakan kembali. Mengacu pada jumlah unduhan aplikasi GoJek di Google Play, GoJek telah diunduh sebanyak 10 juta kali. Untuk iOS jumlahnya pasti lebih kecil lagi karena market share iOS sendiri hanya 4% di Indonesia, sangat jauh dengan Android yang menguasai 74%. Yang 74% saja “baru” 10 juta unduhan, bagaimana pula yang 4%? Jika menggunakan data e27 tahun 2015 jumlah pengguna iOS 2,8 juta, asumsi 50% nya mengunduh aplikasi GoJek maka total Android dan iOS akan didapat angka 11,4 juta yang mengunduh. Tetapi esensi pelajaran yang dapat diambil disini berapa pun jumlah real dari pengguna GoPay, penyedia layanan uang elektronik tidak bisa mengaggap enteng GoPay. Pertumbuhan GoPay sangat signifikan sekali untuk menjadi brand uang elektronik yang top of mind.  Berdasarkan polling, GoPay merupakan uang elektronik peringkat 4 yang paling banyak digunakan setelah Mandiri E-Money, BCA FLazz dan Telkomsel T-Cash pada Desember 2016. Sangat pesat jika dilihat dari kemunculan resminya yaitu April 2016 menggantikan GoJek credit. Saya hanya bisa menilai apa yang muncul di media saja karena pihak GoJek enggan mengeluarkan jumlah angka yang pasti mengenai pengguna GoPay mereka.

Salah satu berita uang elektronik yang menarik perhatian di awal tahun 2017 ini adalah kemunculan NPG (National Payment Gateway). Nantinya uang elektronik berbasiskan kartu fisik (chip) dapat saling digunakan selama Bank tersebut terlibat dalam program NPG ini. Misal, Gerbang toll otomatis Jagorawi yang selama ini hanya bisa menerima Mandiri E-Money dapat menerima juga BRI Brizzi, BNI TapCash, BCA Flazz dsb. Diharapkan program yang diinisiasi oleh Pemerintah ini dapat sepenuhnya beroperasi di bulan Juli 2017.

Dari apa yang dijabarkan diatas, ternyata memang penggunaan uang elektronik “masih” terbatas di transportasi, modern retail dan e-commerce. Saya jadi berimajinasi bagaimana jika uang elektronik nantinya juga bisa digunakan di abang-abang batagor keliling? Atau mungkin juga dapat digunakan ke pengamen jalanan 🙂 #IniBukanBercanda.

Tahun 2015 lalu muncul berita bahwa Facebook mengembangkan layanan pengiriman uang peer-to-peer menggunakan layanan Messenger. Jadi, mengirim uang semudah melakukan chat seperti yang sering dilakukan orang-orang dengan smartphone nya. Layanan ini sendiri baru tersedia di Amerika di tahun 2015, namun perkembangannya seperti apa di tahun 2016 Saya tidak terlalu mengikutinya. Bagaimana jika layanan seperti ini juga kemudian muncul di Indonesia sebagai bagian dari GNNT (Gerakan Nasional Non-Tunai) yang diinisiasi oleh Bank Indonesia sejak 2014? Bagaimana jika Saya bisa bayar hutang makan siang ke teman hanya dengan mengirim SMS? Kita lihat saja nanti beberapa tahun kedepan.

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s