Daily Activity · Economy · Opinion

Sedikit Bercerita Tentang UMKM Indonesia

Assalammualaikum Wr. Wb.

Hi!

Selagi disibukkan oleh pekerjaan di kantor yang tidak ada habisnya, ternyata ada hikmah yaitu hadirnya ide menulis mengenai UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) ini. Bukan apa-apa karena Saya seringkali melihat bagaimana begitu banyak pihak yang berkepentingan “mengurusi” UMKM ini baik oleh instansi pemerintah, komunitas non-profit hingga perusahaan swasta.

Baiklah sebelum membahas lebih jauh, Saya ingin membuat disclaimer terlebih dahulu, yang pertama, Saya mengakui bukan ahlinya membahas mengenai UMKM dan apa yang Saya tulis ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi serta berdasarkan data yang tersedia secara gratis di media. Kedua, Saya tidak berafiliasi dengan siapapun atau apapun yang namanya tertulis didalam artikel ini.

Diawali dengan definisi UMKM, berdasarkan Kementrian Koperasi adalah usaha mandiri yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50 juta untuk skala mikro, Rp 50 juta hingga Rp 500 juta untuk skala kecil dan diatas Rp 500 juta hingga Rp 10 Milyar untuk skala menengah. Jumlah UMKM Indonesia secara keseluruhan di tahun 2015 adalah 57,9 juta. UMKM ini mampu  memberikan kontribusi terhadap pendapatan PDB negara yaitu sebesar 58,92%. Sayangnya dengan potensi seperti itu, UMKM ini belum sepenuhnya difasilitasi oleh semua pihak yang berkepentingan.

Permasalahan klasik UMKM  ada dua yaitu Pemasaran dan Pemodalan

Saya meyakini bahwa semua yang berkepentingan dengan UMKM menyadari permasalahan klasik yang kerap mendera UMKM Indonesia ini. Permasalahan tersebut ada dua yaitu Pemasaran dan Pemodalan. Keduanya saling terikat oleh apa yang disebut dengan Pendampingan, Pendampingan ini dapat berupa pendampingan dalam memasarakan produk dan juga pendampingan dalam mendapatkan akses ke Pemodalan. Soal kualitas produk yang dihasilkan oleh UMKM sebetulnya tidak perlu diragukan lagi, terbukti ada beberapa yang mampu mendapatkan penghargaan, laku di pasaran hingga ke luar negeri dan juga sesuai dengan SNI.

Sekarang kita kesampingkan UMKM yang telah sukses, lalu bagaimana nasib mereka yang baru merintis UMKM dengan modal terbatas skala mikro dibawah Rp 20 juta misalnya? Bulan Februari lalu Saya sempat “bermain” ke daerah Ponggok di Blitar Jawa Timur dalam rangka urusan pekerjaan, disitu Saya dapati Ibu-ibu rumah tangga menjalankan usaha sampingan seperti berternak jangkrik pakan ternak, membuka toko kelontong kecil dirumah, ternak telur puyuh dan membuat kerajinan tas berbahan rajutan. Walaupun tidak bisa digeneralisir, umumnya usaha seperti inilah yang banyak dijalankan oleh penduduk di daerah dengan segala keterbatasan dan potensinya.

Pada titik ini, seringkali orang-orang (termasuk Saya) beranggapan bahwa solusi meng-online kan UMKM adalah solusi terbaik, padahal tidak semua bisa diperlakukan seperti ini. Lihat saja UMKM yang Saya sebutkan pada paragraf sebelumnya! Misal, apakah benar meng-online kan merupakan solusi bagi pemilik usaha mikro jangkrik pakan ternak dan nantinya diperlakukan seperti pedagang online pada umumnya? Dari sini Saya coba mengamati beberapa program yang disediakan oleh pelaku e-commerce Indonesia, bentuk program memajukan UMKM milik mereka dapat dilihat di tabel dibawah ini.

UMKM Online
Tabel 1: Program memajukan UMKM oleh pelaku e-commerce Indonesia

Yang lebih advance menurut Saya adalah Bukalapak dengan program “BukaModal” nya dimana dapat memberikan akses Pemodalan ke UMKM. Walaupun Saya sendiri belum pernah mencoba, Saya meyakini bahwa solusi seperti inilah yang sebetulnya dibutuhkan UMKM selain tentunya akses ke Pemasaran baik itu online maupun konvensional. Terkait dengan Pemodalan UMKM, sebetulnya ada beberapa yang dapat diakses dengan segala kelebihan dan kekurangannya yaitu.

Pemodalan UMKM
Tabel 2: Akses ke pemodalan untuk UMKM

Dari tiga akses Pemodalan diatas ternyata memang tidak mudah didapatkan terlebih untuk UMKM mikro dimana persyaratanya yang diminta cukup berat seperti memiliki laporan keuangan, usaha minimal telah beroperasi setahun dan memiliki jaminan/agunan.

Jika meng-online kan (masih) dianggap sebagai solusi ampuh untuk memasarkan produk UMKM, maka untuk Pemodalan sejatinya masih banyak peluang untuk dianalisis secara mendalam untuk solusinya, terlebih permasalahan yang paling mendasar yaitu persyaratan mendapatkan Pemodalan masih cukup memberatkan terutama untuk UMKM kelas mikro.

Akhir kata seperti disclaimer diawal artikel, Saya bukan ahlinya membahas ini dan Saya pun memiliki keterbatasan dalam memahami hal-hal yang prudent dan hal-hal yang harus comply di industri keuangan. Semoga apa yang ditulis ini dapat dijadikan bahan informasi sederhana bagi UMKM maupun calon investor atau siapapun yang tertarik membahas ini.

Iklan

One thought on “Sedikit Bercerita Tentang UMKM Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s