Opinion

Eksistensi Dalam Dunia (Maya)

touch-screen

Assalammualaikum Wr Wb,

Tulisan ini dibuat bukan dimaksudkan untuk mendiskreditkan kelompok atau orang tertentu. Kali ini Saya menggunakan perspektif kekinian mengenai fenomena dunia dalam dunia (maya). Ada apa dengan Maya? Tulisan ini bukan kisah mengenai seorang gadis yang lahir dibulan Mei (baca: May), tapi ini mengenai “bumbu-bumbu” yang banyak beredar di dalamnya.

Seperti yang kita ketahui, sejak awal millennium ketiga ini perlahan tapi pasti setiap orang mulai terjangkiti suatu virus. Virus ini melekat, menyebar luas dan menyebabkan peningkatan kadar narsis seseorang ke tingkatan yang sangat tinggi. Narsis, eksis, atau apapun itu namanya merupakan “kebutuhan” ketika berada di dunia maya hanya dengan bermodalkan smartphone. Tidak peduli siapapun Kita, semuanya bisa menjadi “orang penting” di dunia maya. Mau melakukan apapun sampai perlu ada ritual “khusus” yaitu selfie. Hasilnya, tentu saja untuk dipamerkan ke “teman-teman”nya, dalam tanpa kutip.

Kenikmatan menjadi  siapapun (atau bahkan apapun, seperti menjadi pocongan misalnya) di dunia maya adalah  daya tarik tersendiri. Ekspresi wajah dan intonasi suara digantikan oleh emoticon cukup dengan mengetik pada tuts keyboard. Sekarang semua hal harus ter-update secara cepat, instant dan nyaris tanpa penyaringan. Dalam waktu singkat ekspresi setiap individu tersedia secara berlimpah di saluran-saluran publik sampai-sampai menghilangkan esensi infromasi yang disampaikan itu sendiri. Informasi dengan mudahnya tersebar tanpa terkonfirmasi apakah informasi itu benar atau keliru. Bukan hal yang  aneh juga ketika orang hanya membaca judul berita yang justru “sengaja” dibuat fantastis lalu dilanjutkan dengan berkomentar di kolom comment, belum lagi jika komentarnya JAKA SEMBUNG BAWA GOLOK. Aktivitas mem-bully orang menjadi semakin terfasilitasi, bersikap dan berpikir nyeleneh dianggap sebagai faktor diferensiasi pemasaran dan tata krama menjadi hal yang tabu dibahas.

Tidak ada orang yang mau hidup terkungkung bagai katak dalam tempurung, terlebih di era seperti sekarang ini. Semua orang berhak mendapatkan akses terhadap informasi yang ada. Tapi jika kemudian apa yang tersedia itu lebih banyak “sampah” yang kadang tanpa sadar “diri Kita” sendiri yang memproduksinya, maka perlu bertanya ke dalam diri sendiri! Apakah Saya, Anda, Kita semua telah cukup dewasa untuk tidak membuat, memodifikasi, menyebar apapun itu di dunia maya tanpa mengawalinya dengan berpikir, “Apa pengaruhnya terhadap orang lain jika Saya melakukan (baca: menyebarkan) ini?”

Ditulis karena terinspirasi oleh tulis di blog ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s