Personal Notes · Sport

Klasik Yang Termodifikasi

soccer-ball-football-jpg_350x350

Assalammualaikum Wr. Wb.

Hi!

Bicara soal klasik, apa yang kemudian muncul di benak kalian? Barang-barang jadul? Mobil? Motor? Fashion? Niscaya tulisan ini bukan mengenai itu semua, Saya pun tidak ada ketertarikan soal topik tersebut. Saya akan berbicara soal Sepakbola, ya sepakbola. Olah raga yang sangat Saya sukai tetapi sama sekali tidak mahir memainkannya. Mungkin ini artikel kedua Saya mengenai sepakbola setelah artikel iniBukan game sepakbolanya yang sedang Saya bahas, tetapi sebuah formasi. Formasi yang dapat disebut klasik yaitu 4-4-2. Ada apa sebetulnya dengan 4-4-2 ini? Tidak ada apa-apa juga kok 😀

Formasi dalam sepakbola sejak mulai dimainkan hingga sekarang terus ber-evolusi setiap saat. Dahulu, yang ada dipikiran pelatih sepakbola adalah menempatkan sebanyak-banyaknya pemain di depan gawang lawan agar peluang mencetak gol lebih banyak. Misal dengan formasi 1-2-7 dimana terdapat 1 pemain belakang, 2 pemain tengah dan 7 pemain depan. Di era modern, kita bisa melihat justru semakin sedikit “pemain depan” alias pemain yang berada dekat gawang lawan dengan 3-5-2 atau 4-3-3 atau 4-2-3-1 atau 4-1-4-1. Tapi apakah ini benar hanya maksimal 3 orang pemain yang berada di depan? Lalu bagaimana dengan formasi 4-6-0  Spanyol saat menghadapi Itali di EURO 2012 yang berakhir imbang 1-1??? #ButuhSatuArtikelLagiBuatJawab

Absurd, itulah kata menurut filsuf yang juga pelatih sepakbola mengenai formasi (Saya lupa namanya). Lalu teringat juga kalimat “bukan tentang formasi tetapi tentang fungsi” (Valeriy Lobanovsky). Lalu apa maksudnya “fungsi”? Jika diibaratkan dengan lapisan, “pemain depan” adalah lapisan pertama pertahanan tim nya. Tidak aneh jika kemudian  “pemain depan” adalah pemain pertama yang berusaha merebut bola dari kaki lawan. Dalam kondisi demikian, “pemain depan” berfungsi layaknya “pemain belakang”. Berlaku sebaliknya jika sebuah tim akan menyusun serangan melalui “pemain belakang”. Belum lagi kalimat dari pelatih fenomenal Bundesliga musim 2016/2017 ini yaitu Julian Nagelsmann (pelatih termuda Bundesliga dengan kelahiran tahun 1987) jika urgensi formasi terjadi hanya saat akan kick-off,  selebihnya ketika bermain akan sebegitu cairnya dikarenakan tim yang ia tangani terus melakukan tekanan ke tim lawan siapapun dan apapun posisinya.

OK, kita tidak bahas sejarah tapi kita bahas 4-4-2 nya. Coba Saya tulis tim yang menggunakan 4-4-2 dan segala turunannya itu tiga tahun terakhir. Di Jerman kita bisa lihat ada Leverkusen nya Schmidt, RB Leipzig nya Hassenhutl, di Inggris ada Leicester City nya Ranieri, di Spanyol ada Atletico Madrid nya Simeone bahkan timnas Indonesia di AFF 2016 ini pun menggunakan 4-4-2 juga ditangan Riedl. Diatas kertas, tidak jarang formasi mereka ditulis menggunakan 4-2-2-2 atau bahkan 4-1-2-1-2. Jadi asumsi Saya, sebetulnya formasi ini terlihat “ga penting” yah, karena yang penting adalah fungsi itu sendiri seperti yang dijelaskan di paragraf sebelumnya. Di lapangan berlaku dinamisme yang sangat bergantung kepada situasi dan kondisi. Mungkin kalau kata Jurgen Klopp si pelatih eksentrik itu adalah “Sepakbola Heavy Metal” walaupun dia bukan pengguna rutin 4-4-2. Di musim 98/99 ketika Manchester United meraih treble winner, pemain tengah mereka diisi David Beckham (pemain tengah disisi kanan), Ryan Giggs (pemain tengah disisi kiri), Roy Keane dan Paul Scholes (berposisi ditengah). Giggs yang berkaki kidal pandai menggiring bola menerobos bagian sayap lawan, lalu Beckham yang memiliki kekuatan di kaki kanannya pandai mengirim umpan silang yang untuk disantap oleh Dwight Yorke dan Andy Cole duet penyerang Manchester United. Hmmmm….. sebentar, itu sih jaman baheula sekali dimana kedua sisi lapangan diisi oleh either pemain jago menggiring bola atau jago melepaskan umpan silang.

Klasik tak ubahnya seperti buku yang banyak dipuji namun tidak banyak orang yang membacanya – Mark Twain

Sekarang kembali ke contoh 4-4-2 oleh empat tim masa kini (Leverkusen, RB Leipzig, Atletico Madrid dan Leicester City). Persamaannya adalah, sama-sama memiliki dua pemain berposisi ditengah yang letaknya begitu dalam sementara kedua pemain sayapnya tidaklah pemain sayap murni seperti layaknya Manchester United 98/99. Di Leverkusen ada Kevin Kampl seorang pemain dengan posisi tengah yang diletakkan disisi kanan oleh Schmidt, Ryad Mahrez si kidal jago menggocek bola yang diletakkan disisi kanan berkebalikan dengan kaki terkuatnya di Leicester, Jorge “Koke” Ressurection seorang playmaker yang diletakkan di posisi kanan oleh Simeone. Fluid, itulah yang terlihat ketika di lapangan. Posisinya begitu random se-random formasinya. So, bukannya jamannya lagi sekarang “main terobos” melalui pinggir lapangan. Sekarang setiap sudut lapangan bisa digunakan untuk “menyerang” lawan. Jika klasik tak ubahnya seperti buku yang banyak dipuji namun tidak banyak orang yang membacanya kata penulis Mark Twain, nah menurut Saya formasi 4-4-2 disepakbola inilah yang masih banyak dipuji namun memang tidak banyak tim yang menggunakannya dewasa ini. Hanya yang hipster saja yang berani nyeleneh dengan yang klasik 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s