Daily Activity · Personal Notes

Vendor Itu…

vendor-assessment-icon1

Assalammualaikum Wr, Wb,

Hi!

Week of hell, istilah saja sebetulnya ini padahal ga sebegitunya juga. Intinya berhubung di kantor sedang ada proyek yang sebentar lagi akan diluncurkan, efeknya yang makin terasa adalah meningkatnya pressure. Untungnya Saya berada di tim yang fully support each other. Namun satu hal yang perlu diberikan catatan merah adalah, “vendor” nya.

Diawali dulu dengan apa itu “vendor”, yang telah menikah mungkin paham istilah ini. Misalnya vendor katering, vendor baju pengantin, vendor dekorasi dsb. Sekarang, Saya dan tim sedang bekerja sama dengan sebuah vendor yang belum punya nama dan reputasi dibidang information system consulting dan creative content . Yang Saya sayangkan adalah, “the way they work” itu amat sangat tidak vendor bangeeeeet. Mereka sangat sulit memahami isi kepala client nya dan sulit sekali diajak bergerak cepat. Coba kembali lagi ke analogi awal, mau akad nikah jam 8 pagi tapi vendor bajunya baru datang jam 7?!? Sangat tidak bisa diterima bukan? Untuk perusahaan besar dengan jumlah karyawan mencapai 6,000 tentu tidak aneh jika memiliki birokrasi yang berbelit dan lamban, tapi aneh jika perusahaan kecil tidak sampai 20 orang pun memiliki ritme kerja yang sama lambatnya. Sekedar sharing, Saya pun pernah berada di posisi mereka sebagai vendor. Pengalaman jika deliverables pekerjaan tidak sesuai harapan client langsung terkena marah, bekerja di waktu menjelang deadline karena client sendiri baru memberikan materinya dekat dengan deadline dan yang paling mengerikan adalah client enggan menggunakan jasa Saya lagi di proyek berikutnya. Tapi, disitulah seninya yaitu seni tahan bahan banting dan tahan kena semprot 😀

Hampir 3 bulan Saya berada di tim baru ini, pengalaman yang Saya dapati ternyata banyak pengalaman unik dalam menghadapi vendor. Vendor lama sisa peninggalan tim sebelumnya cukup berani untuk “melawan” balik ke kami sementara yang baru lebih sedikit bicara. Sayangnya, kedua perbedaan tersebut sama-sama tidak mendukung cepat selesainya suatu pekerjaan. Masuk ke persamaan kedua vendor tersebut, keduanya sama-sama tidak bisa gerak cepat #nangisbombay. Tiba-tiba teringat ucapan bos sebelumnya, “Tulis!!! jangan berdasarkan katanya-katanya”. Petuah ini ternyata amat sangat bermanfaat menghadapi vendor-vendor model begini yang jelas-jelas below expectation pekerjaannya dan sangat sulit sesuai timeline.

Pada akhirnya Saya berpikir apakah memang seperti ini cara kerja vendor? Saya rasa tidak, ini hanya “keapesan” saja bekerja dengan yang model seperti ini. Tidak ada catatan, tidak ada notes/remarks tentang pekerjaan yang telah mereka perbaiki dan yang paling parah tidak ada komitmen waktu deliverables. Disamping itu semua, apakah tim kami harus selalu marah-marah ke mereka? Saya rasa tidak perlu, tapi menjadi lebih tegas wajib hukumnya. Sekarang kembali lagi ke cara tim kami untuk “menjewer” mereka supaya lebih professional. 

Notes for our team: “keep on high spirit, show them you deserve the credits

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s