Daily Activity · Opinion · Personal Notes

Pagi itu di Kalibata

Hi!

Assalammualaikum Wr. Wb.

Pagi ini di Kalibata Jakarta tanggal 17.10.2016 jam 4:00 pagi, alarm pagi berbunyi sebagai tanda untuk segera bersiap menyambut adzan subuh yang tidak lama lagi akan berkumandang. Inilah rutinitas diawal pekan yaitu persiapan berangkat pagi ke kantor. Lalu, apanya yang berbeda? Berbeda karena dari tempat Saya tinggal cukup berjalan kearah timur tepatnya disebuah mall yang lokasinya tidak jauh dan dibagian bawahnya terdapat stasiun kereta bawah tanah/MRT (Mass Rapid Transportation).  Apa yang Saya lakukan ini merupakan rutinitas kaum urban pekerja yang tinggal di ibukota yang setiap dari Senin hingga Jumat menuju kantor disaat pagi dan petang.

maxresdefault
Ini beneran MRT Lho!!

Jakarta, ibukota Republik Indonesia tempat bernaungnya 12  juta jiwa yang setiap harinya juga ketambahan 3 juta komuter dari lingkungan sekitarnya seperti Tangerang, Bekasi dan Bogor. Tapi inilah hebatnya kota ini, sekian juta manusia mengasi rejeki di tempat yang sama namun mobilisasinya dapat diatasi dengan sangat sempurna sehingga bebas kemacetan berjam-jam jika menggunakan kendaraan pribadi. Jaringan kereta bawah tanah/MRT  ini tersambung dengan transportasi publik lain yang berada dipermukaan tanah seperti tram, trans Jakarta, kereta rel tunggal, kereta rel listrik dan bahkan waterway hanya dengan menggunakan satu kartu pembayaran elektronik. Semua penduduk merasakan kenyamanan yang luar biasa berkat transportasi yang memadai ini, turis asing pun dengan mudah dapat berkeliling Jakarta dengan transportasi publik tanpa khawatir tersesat maupun mengalami tindakan kriminal.

Kereta bawah tanah/MRT ini merupakan transportasi terbaru Jakarta yang alhamdulillahnya dapat diakses dengan jalan kaki dari tempat tinggal Saya. Setiap hari menuju kantor di sekitaran Mega Kuningan dapat ditempuh dalam waktu 10 menit saja. Tidak hanya itu, disetiap stasiun yang dilalui terdapat minimarket maupun tempat sarapan yang menarik untuk disinggahi. Rapat diluar kantor pun dengan mudah dapat dilakukan di tempat-tempat seperti ini. Jadi, bekerja seacara mobile benar-benar dapat dilaksanakan tanpa terkecuali. Tak hanya itu, sarana ibadah Saya sebagai muslim tersedia disetiap sudut seolah menyambut kaum urban yang ber-komuter untuk mampir sejenak khusyuk bermunajat.  Transportasi dan sarana publik yang sangat nyaman, bebas gerah, tertib, teratur dan tepat waktu terintegrasi untuk penduduk yang bermukim maupun pendatang di Jakarta. Tidak ada lagi pilih kasih, semua yang hadir di kota ini merasakan kenyamanan yang sama. Tidak peduli apapun level pendidikannya, jabatan pekerjaannya, kondisi fisiknya, semuanya mendapatkan perlakukan yang adil di kota indah ini.

Tak terasa hampir 5 tahun tinggal di ibukota ini dan pada akhirnya Saya pun terbangun juga dari mimpi indah yang sejenak hadir dibayangkan. Mimpi tentang harapan betapa  ibukota ini layak untuk memiliki itu semua, memiliki transportasi publik yang memadai dan dapat dinikmati semua pihak.  Saya yakin apa yang ditulis ini juga merupakan harapan dari mereka yang setiap hari harus berjibakku dengan kemacetan dan kesemrawutan jalanan Jakarta. Semoga apa yang dimiliki Singapura, Hongkong, Munich, New York dan kota besar dunia lainnya juga dapat segera dinikmati oleh penduduk kota Jakarta.  Aamiin

Iklan

One thought on “Pagi itu di Kalibata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s