Personal Notes

Cerita Setelah Dua Bulan Berlalu

meet-again

Assalammualaikum

Hi!

Genap sudah dua bulan selepas posting terakhir ketika sedang di kota Surabaya yang membahas napak tilas selama berada di kota kelahiran dan juga untuk  manasik Haji, sekarang semuanya telah kembali kedalam rutinitas bekerja di ibukota selepas beribadah di tanah suci.

40 hari berada di Madinah, Mekkah dan Jeddah ternyata memberikan kesan tersendiri walaupun pada akhirnya tetap saja rindu tanah air. Pengalaman merasakan berkumpul, bersilaturahmi bersama kaum muslimin seluruh dunia ketika menjalankan ibadah Haji adalah kesempatan yang belum tentu bisa didapatkan oleh semua orang. Maka dari itu terkadang mereka yang baru pulang haji diperlakukan secara berlebihan, bahkan parahnya lagi sampai minta air minum didoakan Bapak/Ibu Haji untuk keberkahan apa mereka yang meminta. APA INI? Berlebihan sih ya, berdoalah langsung kepada Allah SWT bukan melalui makhluknya, selain itu seandainya mereka tau selama di tanah suci pun aktivitasnya terdiri dari menjaga sholat lima waktu berjamaah, makan, tidur, sesekali rekreasi/ziarah. Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh mereka yang berada di Indonesia kecuali jelas ketika hari Arafah dan hari tasyrik (2-3 hari setelah hari Arafah). Haji bukanlah title, tetapi haji adalah ibadah sama seperti sholat, zakat dan puasa.

Selain itu, apa yang berbeda adalah aktivitas disana selama 40 hari yang jauh dari laptop yang “sukses” memberikan efek lain yaitu lupa akan password dan efeknya adalah harus konfigurasi ulang (reset) laptop. Sebetulnya Saya memang enggan terus-terusan berinteraksi dengan device ini, tapi apa daya laptop adalah sarana kerja dan hiburan sehingga begitu lupa password  jadinya kelabakan sendiri.

Masyarakat yang ber-siwak setiap saat

meswak
Kayu Siwak/Miswak

Kembali ke topikselama berada di tanah suci. Satu hal yang sering dijumpai adalah orang-orang yang lalu lalang sambil “mengunyah kayu” yang disebut Siwak/Miswak. Ternyata legacy ini masih tetap ada hingga tahun 2016 ini dan memang telah menjadi sunnah bagi umat muslim untuk bersiwak walaupun buat mereka yang tidak paham akan melihatnya begitu outdated. Selain melihat yang bersiwak, mereka yang menjual siwak juga sangat mudah ditemui disetiap sudut kota. Pedagangnya mulai dari anak kecil 10 tahun hingga kakek-kakek yang kalau dilihat rasanya bikin iba. Sampai-sampai Saya mengamati seorang kakek yang berjualan di dekat terminal bis Jihad.

old-man-siwak
Ilustrasi Kakek Penjual Siwak

Terminal bis Jihad terletak dekat Masjidil Haram tempat Saya turun yang berjarak sekitar 2 kilometer dari hotel. Kakek yang tidak sempat Saya foto ini biasanya baru berjualan sekitar jam 12 dini hari dan barang dagangnya digelar begitu saja di pinggir jalan diatas kain pembungkusnya yang sekaligus jadi alas dia tidur dan sholat persis seperti difoto diatas. Nah, kalau kami tiba di Masjidil Haram jam 3 pagi biasanya dia sedang tidur disitu sambil menunggu adzan subuh. Hanya dua yang dia jual yaitu gunting kecil dan tentu saja the ultimate natural toothbrush Siwak.

Terakhir, jangan kaget kalau hampir semua pedagang disekitar tiga kota itu entah berasal dari Saudi, Pakistan, India, Myanmar maupun dari negara jazirah Arab lain sengat fasih berbahasa Indonesia dalam berinterkasi. Bahkan dari apa yang Saya amati, mereka lebih paham bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris. Untuk bahasa-bahasa transaksi berdagang seperti “berapa”, “jilbab satu lapis”, “harganya tiga real”, “ini ayam, sayur, kambing” sering terdengar disetiap sudut toko dengan pembeli utamanya tentu saja jemaah asal Indonesia yang memang dasarnya hobi belanja 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s