Personal Notes

Malam itu di Surabaya

IMG_20160812_195653
Hiburan Musik di Sentra PKL Karah

Hi!

Bulan Agustus ini alhamdulillah mendapatkan kesempatan lagi untuk mampir ke kota kelahiran yaitu Surabaya. Bukan untuk bertamasya ataupun urusan kantor tetapi untuk keperluan yang lebih mulia yaitu ibadah, detail ibadahnya seperti apa mungkin akan Saya posting dalam bentuk artikel selanjutnya 🙂

Anyway, malam itu Saya cukup kelaparan selepas sholat Isya dan kebingungan juga mau cari makanan apa disekitaran tempat Saya tinggal beberapa hari ini. Berkeliling sejenak dengan sepeda motor hasil pinjam, Saya pun mampir di lokasi yang dulu sebelum tahun 2006 belum ada yaitu Sentra PKL Karah Ketintang. Lokasi ini adalah semacam spot berkumpulnya Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berdomisili disekitar Ketintang (CMIIW). Bukan sembarang PKL mereka ini, mereka adalah pedagang yang berjualan makanan khas Surabaya seperti Tahu tek, Tahu campur, Goreng penyetan, Lontong kupang dan lain sebagainya tersedia disini. Dari segi rasa sebetulnya “B” saja, hanya saja cukup-lah untuk mengobati rindu makanan tersebut daripada harus jauh-jauh pergi ke keliling kota Surabaya berburu makanan khas.

Baik, cukup berceritanya karena sebetulnya yang akan Saya bahas disini adalah momen unik yang Saya dapati ketika makan malam di Sentra PKL Karah. Ternyata selain makan, kami yang berada disitu juga turut dihibur oleh penyanyi “cukup profesional” bersuara merdu. Kenapa “cukup profesional” karena menurut Saya mereka cukup bertalenta dengan kapasitas suaranya, lebih tepat mungkin bisa disebut mereka adalah penyanyi kafe. Tapi ada satu hal yang langsung nampak jelas yaitu fisik penyanyinya yang mohon maaf tidak normal. Boleh jadi inilah segelintir kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Saya cukup malu untuk mengambil foto mereka lebih dekat karena harus maju kedepan disaat tempat makan tidak terlalu ramai. Mereka berdua dimana penyanyi yang satu adalah Ibu-ibu berperawakan normal sebagai pemain organ tunggal sekaligus penyanyi sedangkan penyanyi satunya berperawakan kecil dan buta kedua matanya. Ternyata duet yang menyanyikan tembang lawas seperti Sepanjang Jalan Kenangan, Ayah, Teluk Bayur sangat menghibur Saya yang sedang kondisi makan. Bukan apa-apa karena kondisi makan dan “diganggu” dengan suara “pengamen” saat makan adalah hal yang SANGAAAAAT Saya benci, momen yang sering ditemui saat makan dipinggir jalan.

Orang dengan keterbatasan fisik ternyata tidak mengurangi kemampuannya menghibur orang  disaat mereka yang berfisik normal justru lebih banyak membuat sedih orang lain 🙂

Good job untuk pemerintahan kota Surabaya yang mampu mengorganisir tempat bersih seperti ini dan juga untuk kedua penyanyi yang walaupun tidak banyak penonton namun tetap percaya diri berdendang. Terlebih vokalis utamanya yang “berjoget” dengan ciri khasnya yaitu hanya menggoyangkan kepala dan kaki. Di lokasi sederhana seperti ini justru sering kita temui hal-hal yang menarik dan bahkan mungkin terenyuh. Orang dengan keterbatasan fisik ternyata tidak mengurangi kemampuannya menghibur orang  disaat mereka yang berfisik normal justru lebih banyak membuat sedih orang lain 🙂

Insha Allah kalau ada kesempatan mampir lagi ke kota ini untuk tujuan apapun, Saya ingin menyempatkan ke tempat ini kembali karena siapa tau berjumpa lagi dengan kedua penyanyi ini.

Iklan

One thought on “Malam itu di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s