Daily Activity · Opinion · Technology

Point of Reference #7 – Internet of Things – June W4 2016

Presentation7

Hi!

Tidak terasa artikel mengenai point of reference ini telah mencapai artikel ketujuh. Artikel di-publish secara rutin dihari Rabu setiap minggunya sejak mendapat tugas sebagai point of reference untuk Internet of Things(IoT) pada tanggal 2 Mei 2016 lalu.

Artikel ketujuh ini membahas mengenai implementasi IoT pada dunia agri/aquakultur. Materi ini diangkat setelah tanggal 23 Juni 2016 lalu mampir ke kantor sebuah startup di Bandung dengan nama Cybreed. Apa dan Siapa itu Cybreed?

Nama beken mereka di pasar adalah eFishery, yaitu semacam alat otomatis pemberi makan ikan berbasiskan IoT. Tugasnya cukup sederhana yaitu automatic feeding, tapi dibalik itu semua ternyata ada tujuan yang lebih kompleks lagi yaitu mengenai ketahanan pangan dan konteksnya dalam budidaya ikan konsumsi.

efishery
Penggunaan alat eFishery
Founder eFishery yang terdiri dari berbagai latar belakang mulai dari IT, biologi, entrepreneur hingga finansial memiliki cita-cita yang mulia yaitu agar melalui teknologi dapat membangun daerah-daerah yang merupakan sentra penghasil pangan (saat ini masih fokus ke perikanan). Seperti yang telah dipahami semuanya bahwa setiap tahunnya mahasiswa/i lulus dari kuliah dan mengadu nasib di Jakarta menjadi bagian kaum urban yang telah penuh sesak di ibukota. Disaat yang bersamaan di daerah terjadi brandrain dan ketiadaan generasi pembaharu terutama pada industri pertanian.
Berdasarkan statistik, ternyata industri pertanian adalah industri yang paling sulit untuk mendapatkan pendanaan dari perbankan. Hanya sekitar 5% pertahunnya kapital mengalir ke industri ini, pertanian memiliki resiko tinggi dari kacamata pembiayaan karena mudah terpengaruh perubahan cuaca, serangan hama dan fluktuasi harga disaat panen. Dan pihak petani, merupakan pihak yang paling sering dirugikan jika muncul permasalahan tersebut. Faktor kunci mengapa industri pertanian sangat “rapuh” ini adalah karena kurangnya implementasi teknologi terbaru untuk mengurangi atau memitigasi peluang resiko yang ada menurut salah satu founder eFishery saat kami berbincang-bincang dihari Kamis siang itu.
Melalui eFishery yang berbasiskan IoT, dikembangkanlah sebuah alat dengan sensor deteksi “nafsu makan” ikan sehingga pada jam tertentu dapat diberikan pangan otomatis secara konsisten. Sensor ini mendeteksi “nafsu makan” ikan melalui keaktifan gerakan ikan. Ikan yang “lapar” cenderung lebih aktif dibanding ikan yang telah “kenyang”. Adapun selama ini pemberian makan secara manual telah memberikan beberapa dampak negatif yaitu:
  1. Kemungkinan penyelewengan distribusi pangan oleh pihak pemberi makanan di lapangan, owner tidak dapat mengetahui kondisi riil lapangan secara real-time.
  2. Jika makanan disebar secara berlebihan dan tidak dikonsumsi ikan maka akan mengendap di kolam dan mengikat oksigen air penyebab kematian ikan.
  3. Pertumbuhan fisik ikan yang dibudidayakan tidak merata, sehingga mempengaruhi harga jual ikan.
Perangkat eFishery dijual dengan harga mulai dari 4 hingga 7 jt Rupiah, hingga saat ini dalam setahun pemasarannya lebih banyak fokus ke B2B. B2B ini adalah korporasi yang memiliki petani ikan binaan. Sadar “jual putus” seperti ini tidaklah sustainable, eFishery juga menyediakan layanan sewa mulai dari 300 – 800rb per bulannya dengan kontrak selama masa budidaya ikan (tergantung jenis ikan, ada yang 3 bulan hingga 6 bulan). Saat ini dengan dukungan dana dari investor, eFishery fokus untuk deployment perangkat ke IoT mereka sebanyak mungkin untuk kemudian dapat “dipanen” melalui data analytics dimasa yang akan datang.
Apa yang dilakukan eFishery ini adalah contoh dari perusahaan IoT yang mencoba memecahkan permasalahan lokal menggunakan pendekatan kearifan lokal. Seperti Google Nest dan Telit Communication yang pernah dibahas di newsletter sebelumnya, eFishery mengembangkan ekosistem yang nantinya dapat dimonetisasi melalui insight data analytics. Cara ini hasil pengembangan penjualan perangkat keras secara langsung untuk mengurangi penjualan “putus” perangkat IoT, melalui ini juga maka eFishery tidak menjual konektivitas layanan karena memang bukan fungsi utamanya disitu.
Boleh dibilang, eFishery “more than just an IoT solution for agri/aquaculture”.

 

*Notes:

  • Diambil dari email pribadi yang di blast ke internal kantor dengan sedikit penyesuaian.
  • Penulis tidak ada hubungannya dengan layanan eFishery

 

Iklan

One thought on “Point of Reference #7 – Internet of Things – June W4 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s