Daily Activity · Personal Notes · Technology

Inspirasi Kevin Grosskreutz dan Asosiasi Data Center

Hi!

Orang yang menanyakan apa tugas utama pekerjaan mereka di perusahaan ini saat sedang di interview adalah orang terakhir yang akan kami rekrut – Mohd. Khairil Abdullah 

Tiba-tiba teringat kalimat dari CEO induk perusahaan tempat Saya bekerja yang berasal dari Malaysia. Beliau mengatakan yang kurang lebih artinya seperti ini mengenai orang yang akan mereka rekrut, “orang yang menanyakan apa tugas utama pekerjaan mereka di perusahaan ini saat sedang diinterview adalah orang terakhir yang akan kami rekrut”. Mengapa demikian? Dalam konteks perusahaan startup teknologi  (yang sekarang lagi nge-trend banget itu!!), setiap orang (baca: karyawan) adalah sebaik-baiknya sumber daya yang dapat diutilisasi agar menghasilkan output yang maksimal. Menggunakan istilah dari Gartner Research mengenai talent archetypes IT, dalam konteks startup tidak hanya ada specialist dan generalist, yang dibutuhkan kemudian adalah versatilist.

Tidak ada yang salah menjadi seorang specialist pada bidang tertentu, namun kehadiran versatilist memberikan keunikan tersendiri bagi tim tempat dia berada yang mungkin tidak dapat ditemukan di tim lain. Mengambil analogi Sepakbola, sederhananya versatilist adalah Kevin Grosskreutz dalam dunia startup teknologi. Siapa Kevin ini? Dia adalah pemain sepakbola berkebangsaan Jerman yang memiliki keunikan dapat bermain di berbagai posisi walaupun posisi aslinya adalah sebagai pemain tengah. Kevin dapat ditempatkan sebagai pemain belakang, penyerang bahkan menjadi keeper.

Anyway, dua paragraf telah ditulis membahas mengenai versatility walaupun sebetulnya artikel ini tidak ditujukan untuk membahas mengenai hal tersebut. Kali ini Saya akan membahas bagaimana tugas di kantor yaitu menyiapkan event soft launching asosiasi baru dibidang Data Center. Tempat dimana Saya bekerja ini memang unik. Nama resminya adalah Innovation Management, tapi faktanya kita “bisa” difungsikan seperti layaknya Kevin Grosskreutz. Mulai dari pekerjaan kompleks membuat slide presentasi untuk Board of Director, presentasi di depan calon investor, menjadi Master of Ceremony (MC), menjadi pemimpin membaca doa, menjadi juru foto, menjadi driver, menjadi “kuli  angkut” dan bahkan menjadi event organizer acara. Banyak bukan pekerjaannya? Pekerjaan yang Saya sebut terakhir adalah yang baru saja kami kerjakan. Yang utama dari semua “pekerjaan” ini adalah tidak tertulis di klausul kontrak kerja kami tetapi Saya dan tim sangat bangga dengan hal ini. Bangga menjadi doers, atau menjadi Go-to guy seperti judul pada blog ini. 🙂

Tanggal 22 Juni 2016 lalu bertepatan dengan ulang tahun kota Jakarta lahirlah secara resmi sebuah asosiasi/organisasi yang diberi nama IDPRO. IDPRO merupakan akronim dari Indonesia Data Center Provider Organization atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (APDCI). Bisa dibilang Saya dilibatkan disini dalam kondisi mendadak, tiba-tiba diberi instruksi untuk bertemu dengan seorang Profesor dari Universitas Indonesia untuk membahas bagaimana bentuk dari event tanggal 22 Juni 2016 tersebut.

Apa yang kemudian terjadi adalah, Saya berkenalan dengan berbagai CEO, VP, Akademisi penggiat Data Center hingga media masa yang diminta untuk meliput event ini. Cukup banyak untuk sekedar menambah jaringan pertemanan “kelas berat”. IDPRO dibentuk oleh enam perusahaan penyedia layanan Data Center yaitu Telkomsigma, DCI, Elitery, GTN, NTT Indonesia Nexcenter dan XL Axiata ditambah satu instansi pendidikan yaitu Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Universitas Indonesia (PPST UI).

IMG-20160622-WA0015
Nyempil jadi yang paling muda diantara orang-orang hebat 🙂

Bagi Saya, inilah hikmah dari pekerjaan yang menuntut  dapat berfungsi sebagai apapun selama tujuan dari perusahaan ini tercapai. Walaupun Saya akui dalam hal kompetensi, Saya tidak dapat dikategorikan kedalam versatilist seperti analogi Gartner Research. Selama ini reputasi Innovation Management yang dikenal sebagai “tukang bersih-bersih” ternyata dapat diandalkan. Oiya, Saya baru ingat pekerjaan lain kami di tim ini yaitu sebagai model dadakan majalah seperti yang terjadi di advertorial XL Axiata 2013 lalu di SWA. 😀

Kembali lagi ke IDPRO, saat menyiapkan Question and Answer (QnA) untuk pihak media, didapati bahwa pendiri IDPRO ini secara keseluruhan dapat disebut mewakili >60% dari market share Data Center Indonesia (link). Inilah pesan utama yang ingin diangkat IDPRO ke khalayak melalui soft launching. Cukup representatif bukan dengan nilai tersebut? Yang menarik menurut Saya dari apa yang akan dikerjakan oleh asosiasi ini nantinya adalah menerbitkan annual report mengenai industri Data Center. Bagi pelaku bisnis, informasi mengenai suatu industri dalam bentuk annual report adalah cara termudah untuk mengaksesnya. Bayangkan saat ada investor asing yang ingin memasuki industri Data Center Indonesia, atau ada pelaku bisnis yang juga ingin mendirikan perusahaan di Indonesia dan sedang mencari informasi infrastuktur teknologi pendukungnya. Mereka semua akan sangat terbantu dengan annual report IDPRO tersebut.

Berhubung dihadiri oleh orang-orang yang memiliki jabatan tinggi, dua hari pasca soft launching ini ternyata muncul respon dari orang nomor satu DKI Jakarta yaitu Gubernur Ahok. Melalui Jakpro mereka ingin bertemu dengan pendiri IDPRO di akhir bulan Juni ini. Tidak hanya itu saja, Board of Director dari NTT DoCoMo Jepang yang juga pemilik NTT Indonesia Nexcenter ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai IDPRO. Seperti yang sudah-sudah di dalam bisnis jika orang Jepang telah memiliki trust pada sesuatu maka nantinya mereka akan membawa “gerbong” mereka semua untuk aktif berinvestasi dan juga berbisnis di Indonesia (Jepang investor nomor 3 terbesar di Indonesia).

Di akhir paragraf ini Saya ingin menuliskan bagaimana salah satu poin didirikannya IDPRO adalah untuk membantu melakukan edukasi terhadap pasar mengenai pentingnya Data Center bagi kelangsungan bisnis dan juga cita-cita IDPRO menjadi think-thank yang membantu pemerintah Republik Indonesia menyusun regulasi terkait dengan Data Center, terlebih pemerintah saat ini sangat concern mengenai e-government. Semoga apa-apa yang dicita-citakan tersebut dapat dilaksanakan kedepannya dan dapat membantu Indonesia diakui sebagai negara yang sangat concern mengenai keamanan data digital. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s