Personal Notes

Ramadhan 1437H

Ramadhan 1437H
Bulan Suci Ramadhan

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Hi!

Marhaban Ya Ramadhan, Alhamdulillah masih diberi umur panjang untuk memasuki bulan Ramadhan yang mulai ini (tepat di hari ketiga bulan ini). Bulan dimana semua perbuatan baik diganjar dengan pahala yang berlipat-lipat. Ibadah yang sifatnya sunnah diberi pahala wajib dan ibadah yang wajib menjadi berlipat-lipat pahalanya In shaa Allah.

Bulan Ramadhan tahun 1437 Hijriyah ini adalah kelima kalinya Saya berpuasa di perantauan Ibukota Jakarta. Sendiri menyiapkan makan sahur, berbuka puasa bersama dengan rekan-rekan seperjuangan di kantor maupun kerabat perantauan, menikmati kemacetan di sore hari menjelang buka yang semakin parah, berdesakan di Masjid Mall saat akan melaksanakan sholat Maghrib selepas berbuka puasa, bertaraweh di Masjid dekat kantor bahkan bulan ini menjadi ajang bereuni dengan teman-teman yang sudah jarang bertemu. Sungguh di bulan ini semuanya berubah (jadi lebih baik In shaa Allah).

Sebagai seorang Muslim, wajib hukumnya bagi kami untuk berupasa di bulan Ramadhan ini seperti yang tertulis pada Quran Surat Al Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” Haram hukumnya jika tidak melakukan puasa Ramadhan bagi mereka yang telah baligh tanpa adanya udzur yang jelas. Saking spesialnya ibadah ini, sampai-sampai yang meninggalkannya pun harus “diganti” dengan puasa lagi. Misal seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh maka dirinya diizinkan tidak berpuasa namun nanti diluar bulan Ramadhan wajib menggantinya sebanyak puasa yang ditinggalkan. Selain itu ada juga udzur yang lain bagi mereka yang sedang hamil, menyusui bayi dan yang sedang terkena penyakit keras (silahkan bertanya kepada mereka yang berkompeten menjelaskan ini mengenai bagaimana penggantiannya dapat dilakukan).

Sayangnya, teguran keras juga bagi diri sendiri di bulan suci ini. Seringkali Saya “kencang” ibadahnya di minggu-minggu awal bulan Ramadhan. Semuanya begitu semangat terlebih melihat masyarakat sekitar yang juga berduyun-duyun memenuhi Masjid baik itu untuk sholat fardhu, shalat sunnah, mengaji, berbuka puasa, bahkan sahur. Lantas bagaimana dengan minggu terakhir menjelang berakhirnya Ramadhan? Umumnya yang terjadi adalah semangatnya berkurang, ditambah kenyataan jumlah shaf masjid yang juga semakin berkurang karena sebagian dari mereka telah berada di dalam perjalanan mudik (mulih ke udik) tradisi kami menjelang Hari Raya Idul Fitri. Padahal sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah hal yang krusial yaitu mendapatkan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, malam diampuninya dosa-dosa bagi mereka yang berikhtiar menjemput malam  ini. Bagaimana cara belajar untuk konsisten mengerjakan hal-hal yang baik dan bahkan efeknya hingga keluar bulan Ramadhan? Jawabannya hanya ada di dalam diri sendiri, mampu atau tidak mengelola semangat yang berada dalam kendali kita. Kembali lagi ke paragraf atas mengenai ganjaran puasa di bulan Ramadhan seharusnya sudah mampu memotivasi diri menjadi lebih baik dan tidak bergantung pada lingkungan atau alasan apapun diluar kendali kita.

Umat Muslim di Indonesia di bulan Ramadhan ini sudah selayaknya bersyukur. Kami tinggal di negara yang adem ayem, bebas konflik dan dapat menjalankan ibadah dengan aman. Selain itu waktu kita berpuasa tidaklah terlalu panjang dibandingkan mereka yang berada di belahan negara lain seperti Eropa dan Amerika. Mereka dapat berpuasa hingga 18-20 jam setiap harinya.

Fasting duration
Ramadhan Fasting Duration Around The World

Pada kondisi ini terdapat hikmah yang membuat Saya teringat ayat yang diulang hingga 31 kali di dalam Quran Surat Ar-rahman. Tidak wajar kalau Saya sebagai Muslim bermalas-malasan di bulan Ramadhan ini, masih kurang kah nikmat yang telah diberikan kepada Saya?

Ar rahman 31 times
QS Ar-rahman

Semoga tidak mengangis membaca ayat suci diatas. Saking banyaknya kenikmatan yang diberikan sampai-sampai manusia itu sendiri lupa kalau dia sudah diberikan itu semua.

Terakhir biar tidak terlalu berat tulisan ini, statement Saya adalah mengenai bagaimana “awetnya” makanan/camilan hanya di bulan Ramadhan. Sebagai orang yang gemar ngemil setiap saat, ajaib sekali seandainya makanan seperti biskuit, brownies panggang, kurma, kripik dapat bertahan dikostan lebih dari tiga hari tidak dilahap.

Wassalamualaikum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s